Survei Dulu
Beberapa waktu lalu, paduan suara kami, Paduan Suara Suara Nafiri, mengadakan Persekutuan Udara Terbuka (PUT), tepatnya di tanggal 14 Februari 2015. Kami memilih tempat di Waduk Selorejo, sekitar satu setengah jam dari Kota Malang. Alasan tempat itu dipilih adalah karena kami membutuhkan tempat untuk persekutuan sekaligus tempat untuk berekreasi, saling mengenal satu dengan yang lain. Persekutuan dan piknik, ceritanya. Di waduk ini juga kami bisa naik perahu, menikmati pemandangan gunung-gunung yang mengitarinya (ada Gunung Kelud, Gunung Selokurung juga) dan bersentuhan dengan air waduknya. Karena kami butuh detil tentang tempat ini, maka dua minggu sebelum acara, yaitu di tanggal 30 Januari 2015 kami melakukan survei terlebih dahulu.
Tim survei terdiri dari saya, Ebin, Tetha, Icha, dan Ewin. Berbekal tiga buah sepeda motor, meluncurlah kami dari gereja menuju waduk, pukul 7 lebih 10 pagi. Mungkin karena masih pertama kalinya ke sana, kami semua mengalami kecapaian di tengah jalan. Lutut pegal karena lama tidak digerakkan. Hal itu kami rasakan saat berhenti sejenak mengisi bensin ketika perjalanan sudah satu jam lebih. Setelah merenggangkan badan, kami melanjutkan perjalanan menuju waduk yang ternyata sudah dekat. Pemandangan menuju waduk sungguh menyejukkan. Pohon-pohon di mana-mana. Jalur jalan yang berkelok-kelok, namun berbarengan dengan hijau-hijaunya tumbuhan yang menyenangkan. Ketika sampai di waduk, kami membayar Rp50.000 untuk kami berlima. Harga tiket perseorangan adalah Rp11.500, tetapi mungkin kami datang semi-rombongan (semi-rombongan itu apaaa? :p) maka kami dikenakan biaya masuk per orang Rp10.000. Tiket diperiksa lagi di tempat dekat area parkir.
Waduk Selorejo menawarkan keteduhan yang bikin betah. Tempat yang asik untuk piknik memang. Ada tanah lapang yang penuh rumput hijau, waduknya sendiri, jembatan juga. Ketika kami mulai menelusuri tempat ini, ternyata sedang ada proyek di sana, sehingga jembatan ditutup. Itu artinya kami tidak bisa menyeberang ke daerah setelah waduk. Kecuali jika kami menggunakan perahu. Di sana banyak perahu, yang digerakkan dengan cara didayung (pakai tenaga manusia). Tarifnya juga macam-macam. Karena kami ke sana dalam rangka survei, maka kami naik perahu yang bisa berkeliling ke seluruh area di waduk itu, sampai ke kebun jambu juga. Satu perahu dapat menampung maksimal 8 orang penumpang (selain bapak pendayung 2 orang. Jadi totalnya 10 orang).
Untuk berkelana dengan perahu ke segala sudut waduk, kami memerlukan waktu sekitar satu jam. Itu termasuk metik-metik jambu di kebun jambu. Di kebun jambu, kami boleh memetik jambu sebanyak yang kita mau, dan kemudian jambu-jambu itu ditimbang terlebih dahulu. 1 kg berharga Rp3.000. Karena waktu itu kami bersemangat memetik jambu, apalagi karena rasanya yang enak (jambu biji di kebun ini berwarna putih, bukan jambu biji yang berwarna merah), maka total jambu yang kami bawa pulang adalah 3 kg. Kami juga mampir sebentar untuk melihat-lihat daerah di seberang waduk yang tidak bisa kami lewati dengan jembatan. Daerah di sana ternyata sama juga dengan daerah dekat tempat parkir kami. Hijau karena rumput dan banyak pohon yang teduh. Namun karena mempertimbangkan waktu, biaya, dan segala macamnya, tim survei memutuskan lebih baik tempat untuk persekutuan adalah di tanah lapang seberang daerah parkir, kamudian setelah persekutuan baru bisa diisi dengan naik perahu bersama. Asik tuh naik perahu bareng. Kami diberikan dayung kecil untuk 'ikut mendayung', yang sama Ewin dibilang 'ala film My Heart' hahahaha.
Survei pun diakhiri dengan keputusan bahwa tempat yang digunakan adalah tanah lapang seberang daerah parkir, uang kontribusi peserta akan dirinci lagi sehingga bisa sekalian dengan naik perahu juga. Untuk transportasi dan konsumsi sudah diberikan dana dari gereja.
Hari H
Kami berangkat dari gereja jam setengah 7 pagi, setelah semuanya masuk ke bis, dan beberapa mobil. Setelah H-1 saya dan teman-teman panitia tidak tidur sama sekali karena mempersiapkan segala sesuatunya, syukurlah tenaga kami masih penuh untuk kegiatan seharian di waduk. Sampai di sana, acara berlangsung dengan baik, mulai dari lagu-lagu, games, drama dadakan, dan berperahunya. Di beberapa games kelompok saya menang, di games lain kami kalah. Memang roda itu berputar yaa (apasih Yuu? Hahaha). Ada juga drama dadakan, tantangan yang diberikan oleh Kak Herly sebagai pembawa renungan. Kelompok saya mendapat drama tentang Daniel di gua singa. Saya berperan sebagai Raja Darius, yang jadi Daniel adalah Indra, terus Ebin jadi narator, Pegi dan Henny jadi pegawai kerajaan, dan Rani serta Embun jadi singa. Banyak improvisasi dalam cerita, dan drama kami lumayan seru juga hehehe.
Setelah seluruh rangkaian persekutuan selesai, kami makan siang bersama. Dengan sayur dan lauk yang enak bikinan mamanya Embun, kami makan sekenyang-kenyangnya. Teman-teman beranjak menuju waduk untuk naik perahu, sementara beberapa panitia tinggal untuk membereskan segala perlengkapan dan foto-foto juga hahaha.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar