Perkara Buku dan Bolpen

Senin, 23 Februari 2015

Saya suka menulis dengan bolpen dan di buku, apalagi jika itu adalah tulisan yang berasal dari hal-hal yang saya pikirkan. Namun saya baru menyadari bahwa tulisan yang saya hasilkan kadang tidak sama di satu buku dengan buku yang lain. Ternyata itu karena jenis kertas dan bolpen yang saya gunakan.

Jika kertas di buku yang saya pakai adalah jenis kertas yang bersih, lembut, masih polos, dan jarak barisnya besar-besar, huruf saya pasti ikut rapi. Jika bolpen yang saya pakai adalah jenis bolpen yang ramping, ujungnya tajam dan tidak terlalu tipis, dengan tinta tidak terlalu tebal tetapi tidak bocor, huruf saya pasti ikut rapi juga. Lain hal jika kertasnya sudah baik, tetapi bolpennya tumpul, huruf saya cenderung jelek. Begitu juga jika kertasnya jelek dan bolpennya bagus, tetap saja huruf saya ikut amburadul.

Apa mungkin itu karena kenyamanan? Saya bertanya-tanya sendiri. Saya memeriksa buku-buku yang kertasnya sesuai dengan 'kriteria' baik di atas, yang ditulis dengan bolpen sesuai 'kriteria' juga seperti di atas, dan menemukan bahwa memang huruf saya rapi. Saya juga menulis lagi, dan memang ada kenyamanan yang dirasakan jari-jari saya, sehingga itu berdampak pada tulisan saya. ('Kriteria' buku yang baik dan bolpen yang baik bagi masing-masing orang mungkin berbeda, tapi karena ini blog saya, maka saya memberikan contoh 'kriteria' yang baik menurut saya. Hihihi)

Saya pikir, kenyamanan kemudian memberikan dampak pada hasil. Jika saya nyaman terhadap media yang saya gunakan ketika menulis, maka tulisan saya akan rapi dan lebih panjang. Berarti, itu juga berpengaruh terhadap pikiran saya. Ketika tulisan saya rapi, saya selalu ingin menulis lebih banyak dan bermacam-macam, bila perlu berlembar-lembar pun tidak masalah. Serasa ide mengalir begitu saja. Apa mungkin itu karena kenyamanan? Saya kira, iya.

Bayangkan jika seseorang yang bekerja di tempat yang membuat dia nyaman, produktivitasnya pasti meningkat. Bayangkan jika seseorang belajar di jurusan yang 'dia banget' dan memberikan dia kenyamanan, dia pasti akan belajar tanpa dipaksa, dan akan berdampak pada hasil belajarnya. Bayangkan jika seseorang mengerjakan passionnya dan membuat dia nyaman, dia pasti akan sangat menikmati pekerjaannya dan tidak menganggapnya sebagai beban.

Hal sederhana seperti buku dan bolpen ini menyadarkan saya bahwa kenyamanan memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil. Saya tidak berbicara tentang 'tinggalkan zona nyamananmu!', tidak. Ini lebih berkaitan dengan bagaimana memotivasi dan mendorong orang untuk memaksimalkan potensi dirinya dengan menemukan kenyamanan dalam bidangnya. Kenyamanan yang saya maksud ini berkaitan dengan perasaan semangat dan senang, perasaan ringan dan tidak tertekan. Oh iya, ngomong-ngomong, kenyamanan itu berkaitan dengan kondisi psikis juga kan ya? Nah, berarti, kondisi psikis yang baik akan menimbulkan perasaan senang dan nyaman, yang kemudian menjadi stimulus bagi seseorang dalam mengerjakan sesuatu.

Apakah kita sudah menemukan kondisi yang nyaman ketika kita mengerjakan sesuatu? Ataukah kita sedang bergumul dengan aktivitas yang ternyata tidak membuat kita nyaman? Saya kira, perlu sekali untuk menemukan alasan yang membuat kita nyaman dalam mengerjakan sesuatu. Entah itu karena orang-orang sekitar, tempat, bidang, apapun itu. Saya teringat frasa lama: do what you love, and love what you do. Itu akan membantu.

Baiklah, dari perkara buku dan bolpen sampai kenyamanan, sejak kapan saya terdengar seperti konselor begini? Hahaha. Maafkan ke-soktahu-an saya ini, jika ada yang setuju syukurlah, jika ada yang tidak setuju, kritiklah saya. Ada yang punya ide lain? Boleh sekali menyampaikan kepada saya. Saya menulis ini karena sedang menunggu waktu untuk membaca, sebelum tidur. Kayaknya waktu untuk membaca buku telah tiba, maka saya akhiri saja postingan ini. Hehehe.

PS: asik juga kalo topik ini jadi topik tesis. Hihihi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS