Mata

Senin, 23 Februari 2015

Sejauh yang saya bisa rasakan, mata saya masih sehat. Belum membutuhkan kacamata untuk melihat; penglihatan saya masih jelas. Segala sesuatu terlihat tidak kabur, huruf-huruf masih terbaca dalam jarak pandang normal.

Setidaknya itu yang saya tahu sampai beberapa bulan yang lalu.

Ada sesuatu yang terjadi dengan mata saya, semenjak saya meningkatkan durasi membaca buku. Kadang, pandangan saya agak kabur, tulisan-tulisan dalam jarak pandang normal terlihat tidak fokus, ada 'kembarannya'. Saya mulai khawatir, saya menyetok sejumlah wortel di dalam kulkas untuk saya konsumsi setiap pagi. Mata saya berangsur-angsur pulih. Pandangan saya kembali membaik, dan saya tidak perlu merasa khawatir untuk beberapa saat.

Mungkin itu yang saya pikirkan.

Saya tidak mau memakai kacamata. Kacamata untuk gaya-gayaan, mungkin iya, tetapi kacamata untuk membantu melihat dalam jarak pandang tertentu, saya tidak mau. Saya teringat, ketika saya masih SD, saya bertaruh dengan teman saya, siapa yang memakai kacamata terlebih dahulu dia harus membelikan buku untuk yang belum memakai kacamata. Saya sepertinya tidak keberatan membelikan buku untuk teman saya, tapi saya akan sungguh menolak jika mata saya mulai membutuhkan alat bantu untuk melihat (dalam jarak tertentu).

Sampai sekarang, baik saya maupun teman saya itu belum memakai kacamata. Mata kami masih normal dan kami sering saling mengingatkan bahwa taruhan kami ini belum terpecahkan. Saya kira ini menjadi motivasi bagi saya untuk menjaga kesehatan mata saya. Hehehe.

Namun, beberapa hari kemarin, mata saya mulai memberikan gambaran tidak fokus lagi. Semua objek yang saya lihat kembali mengeluarkan 'kembaran'. Akhir-akhir ini, saya menambah durasi membaca buku. Banyak buku yang saya baca, mumpung sedang liburan. Mungkin ini berdampak pada mata saya, membuatnya lelah. Atau mungkin juga ini terjadi karena saya sempat berdiskusi tentang kacamata dengan beberapa kakak di gereja yang menggunakan kacamata. Ah, yang terakhir ini saya mengada-ngada saja, mana mungkin karena membicarakan kacamata dan mata minus langsung berdampak pada mata saya? Ini pasti karena saya yang terlalu banyak membaca buku tidak kenal waktu, bahkan pada keadaan kamar yang remang-remang (biasanya jam setengah 6 sampai jam 6 sore dan saya malas menyalakan lampu, lebih sering mengandalkan cahaya matahari dari jendela yang sayangnya pada jam segitu sudah mulai meredup).

Saya tidak menyetok wortel lagi di kulkas. Saya mencoba metode baru: mengurangi durasi membaca buku, terlebih jika keadaan ruangan yang remang-remang. Ini sungguh menyiksa, saya harus memaksa diri saya lepas dari buku beberapa saat, supaya mata saya bisa beristirahat dan tidak bekerja keras melihat huruf-huruf di tempat yang cahayanya kurang. Kebiasaan saya memang menyalakan lampu jika kamar memang sudah gelap, dan membaca dalam keadaan remang-remang (cahaya matahari terbenam) ternyata membuat mata bekerja lebih keras untuk menerjemahkan huruf-huruf yang saya baca.

Syukurlah metode ini cukup berhasil. Sekarang mata saya sudah tidak melihat 'kembaran' objek lagi, lebih fokus. Mungkin kemarin mata saya memang lelah. Namun saya tidak kembali menambahkan durasi membaca buku seperti semula. Yang saya lakukan adalah lebih kepada menetapkan jam-jam membaca buku dengan kondisi cahaya matahari yang memadai, yaitu di pagi sampai siang hari, dan jika perlu (kayaknya memang perlu sih, hihihi), di malam hari dengan cahaya lampu.

Semoga mata saya tetap sehat. Saya mau mulai menyetok wortel lagi. Siapatahu penggabungan dua metode ini dapat membuat mata saya lebih sehat dan membuat taruhan masa SD tidak terpecahkan (kecuali jika teman saya mulai menggunakan kacamata. Hehehe).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS