Terlibat Percakapan

Selasa, 10 Februari 2015

Ada kecenderungan di dalam diri saya, yang kadang tidak bisa saya kendalikan, yaitu keinginan untuk bertukar pikiran dengan orang yang baru kenal. Atau sekedar ngobrol santai. Atau minimal tahu nama dan asalnya.

Entahlah.

Sementara itu, ada kecenderungan lain yang juga susah saya tahan, yaitu mendekati orang-orang yang sedang sendirian, yang jika saya baca dari gerak-gerik mereka, mereka seperti tidak punya teman ngobrol; kesepian.

Entahlah.

Kalau di jarak jangkauan saya ada yang duduk sendirian tanpa ada yang duduk di sebelahnya, saya akan dengan sendirinya terdorong untuk duduk di sebelahnya, lalu melempar senyum, dan mengajak ngobrol. Saya akan berusaha untuk mencari hal yang dia sukai dan jika kebetulan, mungkin saya juga akan menyukai hal yang dia sukai, supaya obrolan bisa berlangsung lebih lama. Saya tidak tega melihat seseorang duduk sendirian tanpa teman, tanpa ada yang mengajak dia ngobrol. Apalagi jika dia adalah anak baru di suatu organisasi yang saya ikut terlibat. Tentu sulit baginya untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.

Karena kecenderungan inilah, saya tidak terlalu memusingkan seandainya saya harus bepergian jauh tanpa ditemani oleh orang lain. Bagi saya, justru itulah momen bagi saya untuk memiliki teman baru. Saya pernah ngobrol dengan bapak-bapak yang asyik membaca koran di dalam pesawat, dan di tengah percakapan kami, saya mengetahui bahwa beliau adalah pembantu rektor di salah satu kampus swasta di Kupang. Pernah juga ngobrol dengan mas-mas dalam bis dari Juanda ke Purabaya, dan dia bercerita tentang pengalamannya merantau di Jawa, lalu menolong saya untuk menemukan bis Malang, sementara dia sendiri menuju ke Madura. Di kesempatan lain, saya berhasil membuat seorang teman kelas yang 'agaknya' dijauhi oleh teman-teman lain karena pemahamannya yang terlalu 'tinggi' untuk ikut bersama kami makan siang di kantin. Ada juga teman yang suka kemana-mana sendiri karena tidak punya teman lain, saya mendorong dia untuk bergabung di kelompok saya jika ada tugas kelompok. Ada teman yang setelah ngobrol dengannya, saya baru tahu kalau dia pernah menjadi duta pariwisata di propinsi asal saya. Saya bahkan pernah berpura-pura lewat di depan seorang kakak-kakak di gereja untuk meminta segelas air minum kemasan, hanya karena dia terlihat duduk sendirian tanpa ada teman yang mengajak dia ngobrol. Ujung-ujungnya, saya malah tahu banyak tentang mimpi-mimpinya yang dia ceritakan kepada saya, dan dia membagikan pengetahuan fotografinya, yang astaga-saya-bahkan-belum-belajar-sampai-di-sana.

Terlibat percakapan dengan orang lain, apalagi orang yang belum dikenal, membuat saya belajar berbicara dan mendengar. Belajar berbicara, jika lawan bicara adalah orang yang pemalu dan tertutup, sehingga saya harus pandai-pandai membawa percakapan, agar dia bisa menemukan 'teman' bertukar pikiran. Belajar mendengar, jika ternyata lawan bicara adalah orang yang lebih suka ngobrol, sehingga saya mendapat banyak masukan dan inspirasi yang mungkin berbeda dengan yang saya ketahui dari orang lain.

Lalu mengapa kesannya saya cukup bersikeras untuk mendekati orang lain? Pertama, ada kecenderungan di dalam diri saya yang sulit saya jelaskan mengapa. Ini tentu agak berbahaya jika saya tidak mampu mengelolanya dengan baik. Kuncinya adalah saya harus peka dan sigap menjaga diri sendiri jika ada hal-hal yang mencurigakan (untunglah sejauh ini belum). Kedua, perasaan ketidaktegaan saya melihat orang yang duduk sendiri seperti tidak punya teman. Saya bisa saja salah; mungkin mereka sendiri karena memang ingin sendiri (ada hal yang harus direnungkan dengan dirinya sendiri), atau mungkin mereka sedang menunggu orang lain. Tapi selama ini, kesan yang saya dapat dari orang-orang yang duduk sendiri dan saya ajak ngobrol adalah bahwa mereka memang sedang sendirian dan tidak ada teman untuk berbincang-bincang. Ketiga, mendapat teman baru. Kebanyakan, orang-orang di kondisi ini adalah orang-orang yang tidak saya kenal, sehingga kami bisa berteman. Mungkin akan bertemu lagi di lain hari, mungkin juga tidak. Tapi, berbagi energi positif dan membangun lewat bertukar cerita, pikiran, dan pengalaman, tentu akan menjadi bahan masukan yang baik bagi diri kita sendiri. Dan secara tidak sadar, kita juga berlatih untuk berbagi dengan orang lain. Siapa tahu, dia sedang mengalami masalah dan butuh orang untuk mendengar. Percayalah, masalahnya mungkin tidak selesai, tapi dia bisa lega karena bisa berbagi, karena ada yang mau mendengarnya.

Kadang, kelakuan saya ini dianggap SKSD oleh beberapa orang. Ah, mungkin mereka saja yang belum tahu motif saya melakukan hal itu. Hehehe.

Saya pribadi merasa bersyukur, bahwa kecenderungan-kecenderungan ini mendatangkan hal baik bagi saya. Berkenalan dan berbincang-bincang dengan orang lain membuka pikiran dan pemahaman-pemahaman baru. Dan tentu saja, relasi, pertemanan. Kita tidak tahu orang yang kita ajak ngobrol itu akan menjadi siapa di kemudian hari, bukan? Yang penting, harus selalu menjaga diri dan menjaga situasi agar tetap kondusif. Tsaah! :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS