Mengenai Kebaikan Hati

Senin, 22 Desember 2014

Melakukan perjalanan ke kampung halaman selalu membawa sensasi sendiri. Senang karena bertemu keluarga lagi, sedih karena meninggalkan kerabat di tanah rantau. Saya merasakan keduanya. Praktisnya, itu gelisah. Risau. Tapi seperti yang saya pelajari di kelas ekonomi, itu namanya opportunity cost. Memilih salah satu di antara beberapa pilihan sementara mengorbankan pilihan lain, yang artinya tidak bisa menikmati keuntungan dari pilihan yang telah dikorbankan itu. Baiklah, semua di hidup ini pilihan bukan? Jadi saya memilih untuk pulang sebagai pilihan yang bagi saya sudah optimal. Walaupun ya tadi itu, saya tidak bisa menikmati keuntungan jika saya memilih tetap di tanah rantau. Seperti bernyanyi di paduan suara pada malam natal, misalnya. Keadaan seperti ini kalau di kelas teori organisasi disebut sub optimality.

Ngomong-ngomong, konteks pulang ini bukan pulang seterusnya, namun pulang pas liburan. Hehehe.


Pesawat saya dijadwalkan hari Senin, beberapa hari sebelum hari Natal tiba. Penerbangan di jam makan siang nyatanya membuat travel agency saya agak terburu-buru menjemput saya menuju bandar udara internasional pagi-pagi sekali. Belakangan saya baru tahu kalau beliau agak ngantuk, jadi saya menerjemahkan secara bebas bahwa beliau mungkin ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya (mengantar saya ke bandar udara) supaya bisa pulang dan istirahat. Mungkin. Saya baru tahu kalau harga travel agency sudah naik, dua tahun lalu seingat saya masih 60ribu, dan ketika saya sampai di bandar udara, saya harus membayar jasa travel ini sebesar 90ribu. Bapak travelnya minta uang pas saja, sementara saya punya uang 100ribu. Saya bilang kembaliannya buat bapak saja, lalu saya berlalu. Berkat antaran bapak travel yang kepagian ini, saya sampai di bandar udara beberapa jam lebih awal dari waktu check in, dan yah, entah apes atau beruntung, saya membawa pensil, penghapus, dan buku sketsa yang kertas kosongnya hanya tinggal 6 lembar (cuma 6 lembar untuk 2 minggu liburan! Astaga!) secara spontan sebelum berangkat. Alih-alih membunuh waktu, saya menyelesaikan 4 ilustrasi untuk 4 puisi. Lalu saya memutuskan untuk masuk saja, mengecek apakah sudah bisa check in atau belum.

Perlu beberapa waktu hingga konter check in dan pembayaran pajak juga bagasi untuk penerbangan saya dibuka. Sambil menunggu itu, saya duduk di dekat konter itu dan ngobrol sama ibu-ibu yang ternyata beliau berasal dari Blitar. Saya langsung nyerocos saja bahwa saya pernah ke Blitar, walaupun saya hanya ke Perpustakaan Bung Karno dan Istana Gebang. Beliau ramah menanggapi saya, sehingga beliau juga bercerita bahwa penerbangan beliau ke Kalimantan dibatalkan oleh pihak armada dan menurut beliau pihak armada penerbangan itu harus bertanggung jawab atas penginapan bagi penumpang sampai adanya penerbangan lanjutan. Saya setuju. Pembicaraan kami ditutup di saat beliau beranjak berkumpul bersama para penumpang lain untuk berkoordinasi dengan petugas mengenai penginapan bagi penumpang yang pesawat ke Kalimatannya ditunda.


Saya duduk lagi sendiri, dan mengutak-atik permainan yang ada di i-Pad untuk lagi-lagi membunuh waktu. Kemudian ada seorang ibu dan dua orang anaknya menghampiri bangku saya dan duduk di sebelah saya. Saya meluncurkan SKSD saya dan saling tahu-menahu bahwa beliau dan anak-anaknya akan ke Kalimantan, tetapi armada penerbangan kami sama. Beliau minta tolong saya untuk menjaga barang-barang beliau selagi beliau cek in, dan meninggalkan anaknya yang paling besar duduk bersama saya. Saya mencoba mencairkan suasana dengan si adek dan dia sepertinya cukup cepat untuk menanggapi pembicaraan saya. Beberapa menit berselang, si ibu belum selesai check in dan saya coba-coba menengok ke konter penerbangan saya, kiranya sudah bisa check in untuk tujuan ke kampung halaman saya. Dan oh, ternyata sudah bisa. Saya kembali ke tempat duduk, menunggu si ibu selesai check in, lalu gantian minta tolong kepada beliau untuk menjaga sebentar barang-barang saya sementara saya mengantri check in.

Antrian di konter dengan tujuan ke kampung halaman saya ternyata tidak begitu ramai. Baru buka, begitu pikir saya. Saya mengantri dengan seorang kakak-kakak bersama mamanya (yang punya barang seabrek untuk masuk bagasi) dan seorang tante-tante (yang juga punya barang seabrek untuk masuk bagasi). Saya sendiri tidak pakai bagasi, karena malas banget bawa barang banyak. Sebenarnya ingin, tapi saya agak malas menunggu barang bagasi saya jika sudah sampai di bandar udara tujuan. Jadi praktis, saya hanya membawa satu tas punggung, lalu satu tas plastik yang isinya oleh-oleh dan beberapa jajan bagi saya dalam perjalanan. Ketika mengantri, kakak-kakak dan tante-tante di depan saya saling mengobrol, menanyakan mereka dari kota mana kalau tinggal di Jawa (perlu diingat bahwa masing-masing hanya satu orang, bukan gerombolan kakak-kakak dan gerombolan ibu-ibu). Saya hanya sepintas mendengar bahwa sang tante-tante juga dari Malang, sehingga urat SKSD saya kumat lagi, melontarkan secara spontan saya juga dari Malang, dan kami agak cepat akrab. Beliau mengurus pajak dan bagasi lebih dulu, kemudian saya mengikuti. Begitu beliau selesai, beliau menepuk bahu saya dan bilang, "Pajaknya nona sudah saya bayarkan", lalu beranjak pergi. Saya kaget, hanya bisa bilang terima kasih secara spontan (dan mungkin terbata-bata).


Saya naik menuju gate saya di lantai 2, dan duduk sambil menunggu boarding time saya mengetik postingan ini. Saya duduk di samping seorang nenek-nenek dan yah entah kenapa jurus SKSD saya selalu berhasil, kami mengobrol juga dan beliau mau ke Kalimantan. Jelang beberapa saat, saya bertemu lagi dengan tante yang membayarkan pajak saya dan saya mengajak beliau duduk bersama sambil menunggu boarding time kami. Nenek-nenek yang tadi sudah masuk ke waiting room, dan diganti oleh seorang bapak-bapak yang saya SKSD in juga dan tahu bahwa beliau akan ke kampung halaman saya. Juga. Sambil menyelesaikan postingan ini, mama menelpon untuk mengecek keadaan saya, dan saya dengan setengah merengek meminta mama memasak sesuatu bagi saya.


Waktu boarding tiba, saya masuk ke waiting room, dan menyelesaikan tulisan ini sampai waktunya saya masuk ke pesawat. Membuat saya duduk dan merenung sebentar tentang kebaikan hati orang-orang yang tidak saya kenal. Mereka yang tidak mengenal saya sanggup melakukan kebaikan. Ya astaga, pajaknya bandara sekarang sudah 75 ribu! Siapa ibu tadi yang begitu bermurah hati membayarkannya bagi saya? Saya tidak kenal! Siapa orang-orang tadi yang sempat ngobrol dengan saya, bersedia berbagi cerita dan waktu dengan saya? Saya pun tidak kenal! Saya lantas berpikir, jika orang yang tidak kita kenal saja sanggup menolong kita, apalagi orang yang sudah mengenal kita! Saya berkaca pada diri saya sendiri. Sudahkah saya menolong orang-orang yang ada di sekitar saya, baik yang saya kenal maupun yang tidak saya kenal? Sudahkah saya sempat bertegur sapa dan berbagi cerita barang sejenak dengan orang-orang lain--mendengarkan mereka? Sudah murah hatikah saya atau sombongkah diri saya terhadap orang lain?

Semoga semua orang yang saya temui hari ini, termasuk orang-orang yang saya ceritakan di tulisan ini sampai di tujuan dengan selamat, bertemu sanak saudaranya dalam suasana sukacita, dan berumur panjang.

Selamat Natal!

PS: saya bertemu adik kelas saya di SMA dulu yang hanya saya ingat wajahnya dan dia duduk di sebelah saya, lalu kami saling menyapa. Dia mengingat nama saya!

PS lagi: belakangan baru saya sadari, semua yang saya ceritakan di sini adalah perempuan. Apakah karena ada kaitannya dengan Hari Ibu? Selamat Hari Ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS