Bawa Bekal

Senin, 27 Oktober 2014

Dulu, ketika saya masih kuliah S1, saya punya kegemaran membawa bekal. Kalau tidak salah, saya mulai bawa bekal sejak semester 3 hingga semester 6 karena terpengaruh oleh teman baik saya, Evi, yang selalu dan selalu membawa bekal dan makan di kelas atau di ruang kaligrafi lantai 1 yang dekat perpus (sekarang perpus sudah diubah menjadi beberapa ruang dosen, karena perpus pindah di gedung baru). Waktu itu saya pikir saya mending bawa bekal juga biar bisa menemani Evi makan (karena percayalah, mahasiswa yang membawa bekal di kampus saya sangat sedikit). Saya dan Evi sudah berteman sejak semester 1 dan melihat dia makan sendirian membuat saya juga harus membawa bekal untuk duduk makan bersamanya. Sebenarnya Evi tidak sendiri-sendiri amat sih, ada teman-teman di sekitarnya, tapi cuma dia yang makan dan membawa bekal. Begitu.

Tempat bekal saya tidak terlalu besar, dan teman-teman selalu miris melihat nasi saya yang 'sepotong doang' hahaha. Mereka selalu saja melontarkan pertanyaan: Yu, kenyangkah nasinya segitu? dan saya mau bilang apa lagi selain 'Iya'. Lauk yang saya bawa selalu saja hanya lauk, tanpa sayur. Mulai dari telur goreng, tempe, sosis, nugget, sampai abon. Dan jika makan bersama Evi, dia selalu menawarkan sambal dan tempe goreng. Selalu. Syukurlah makan siang saya jadi bervariasi hihihi.

Bawa bekal sebenarnya tidak membuat saya jadi anti-kantin. Kami sering juga makan di kantin dengan beberapa teman lain yang tidak bawa bekal (tentu saja kami berdua akan makan bekal kami masing-masing). Tapi selama semester 3, seingat saya, saya ke kantinnya terlalu jarang karena waktu itu tugasnya cukup banyak sehingga tidak sempat untuk berjalan beberapa menit ke kantin. Lagipula, dengan membawa bekal kami bisa menghemat waktu kami sehingga bisa mengerjakan hal lain di kelas (seperti ngadem di bawah AC hahaa, atau mengerjakan beberapa tugas, juga bisa mengunjungi teman lain di kelas sebelah, atau yah, online. Syukurlah jaman saya wifi di kampus cepet banget koneksinya). Selain itu, uang saku saya juga bisa dihemat untuk membeli beberapa buku, karena membawa bekal jauh lebih murah daripada membeli di kantin (apalagi bekal dengan porsi saya). Saya memasak sendiri bekal saya, dan tentu saja saya menjamin sendiri kebersihannya bagi diri saya sendiri.

Sepertinya sudah lama sekali momen membawa bekal ini. Sekarang saya tidak bisa membawa bekal lagi, karena di kost sudah tidak ada kompor untuk kami gunakan. Saya harap ibu kost mau memberikan kompornya yang nganggur itu buat kami bisa memasak lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS