Setiap orang memiliki momen titik balik, bukan? Saya pun demikian, dan saya bersyukur saya pernah mengalami masa-masa itu. Masa-masa yang bijak, masa-masa di mana saya berproses menjadi lebih baik.
Semuanya bermula sejak saya tidak berpacaran lagi karena saya dan sebut saja si B memutuskan untuk 'lebih baik kita berteman saja'. Hubungan jarak jauh kami mungkin juga mengambil peranan besar dalam keputusan ini (saya pikir demikian, selain alasan-alasan lain yang si B kemukakan), dan sekeras apapun saya berusaha untuk mempertahankannya, toh tidak bisa juga. Ah, kami juga masih terlalu muda di masa itu. Kami ketika itu masih berusia 19 tahun. Di hampir akhir tahun 2011, akhir semester 3 di studi S1 saya, keputusan untuk 'berteman biasa saja' pun datang dari si B itu. Saya bersedih, dan saya tidak mau bersedih yang terlalu lama. Saya kemudian mulai mencari kesibukan-kesibukan di kampus untuk mengabaikan perasaan sedih saya. Memasuki semester 4, saya cukup sering melibatkan diri dalam beberapa kegiatan, dan menemukan saya ternyata belum terlambat untuk menikmati masa-masa kuliah saya yang benar-benar indah. Saya menjemput momen titik balik saya di hampir akhir semester 4, waktu itu tahun 2012 bulan April. Saya lupa di tanggal berapa dan hari apa, tapi saya ingat bahwa Direktorat Pengembangan Karakter dan Kepemimpinan (Direktorat PKK) di kampus saya membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi mentor bagi mahasiswa baru yang akan masuk tahun ajaran baru. Ini pertama kalinya direktorat ini merekrut mentor mahasiswa, karena tradisi sebelumnya menunjukkan bahwa mahasiswa biasanya menjadi co-mentor, sementara yang menjadi mentor adalah dosen atau staf. Ternyata, tahun 2012 itu mahasiswa diberikan kesempatan menjadi mentor untuk pertama kalinya. Hal ini terjadi tepat di saat manajer Direktorat PKK, Bu Jenni digantikan oleh Pak Agni. Di saat yang sama, Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Manajemen dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga membuka kesempatan untuk bergabung bersama mereka menjadi pengurus baru alias re-generasi. Saya sempat bimbang harus memilih yang mana, karena jika saya memilih menjadi mentor dan HMP/BEM, saya benar-benar harus ekstra kerja kerasnya. Maka saya pun memutuskan untuk menjadi mentor, karena saya hanya merasa ini tempat di mana saya bisa berbagi dan memberi lebih banyak lagi.
Saya ingat pertemuan perdana mentor adalah di tanggal 5 Mei 2012 dan saya tidak bisa menghadirinya karena bertepatan dengan kegiatan live inn ke Desa Peniwen yang sudah mulai sejak tanggal 4 Mei sampai tanggal 6 Mei. Tapi ternyata ada kelas ekstensi di minggu berikutnya untuk mengejar ketertinggalan kami yang tidak sempat hadir di tanggal 5 tersebut. Syukurlah. Walaupun agak ngebut, karena hanya disajikan dalam 2 jam, tapi saya menangkap kesan setelah mengikutinya: perjalanan menjadi mentor pasti akan sangat menyenangkan, seru, dan asyik. Terang saja, saya benar-benar merasakan hal itu sejak hari pertama saya bertemu formasi Direktorat PKK yang keren, juga teman-teman yang akan menjadi mentor seperti saya pada saat mahasiswa baru tiba ketika hari festival (ospek) mereka yang pertama. Masa-masa persiapan menjadi mentor menjadi masa-masa berproses yang sungguh sangat saya nikmati, sampai saya sendiri sempat lupa bahwa saya yang kemudian akan membawakan materi-materi itu pada adik-adik mahasiswa baru hahaha. Banyak materi yang baru pernah saya dapatkan, seperti menemukan passion, dan saya rasa saya harus mulai mengumpulkan kembali materi-materi itu hehehe. Hubungan keakraban mentor juga dibentuk lewat kumpul-kumpul yang terlalu sering di kantor Direktorat PKK, dan tidak ketinggalan kerjasama untuk acara Global Youth Festival (GYF), salah satu acara dalam kegiatan festival yang mana mentor ikut berkecimpung langsung ke dalamnya. Festival dimulai di akhir bulan Juli sampai awal bulan Agustus 2012, dan masa-masa persiapan itu dilakukan selepas saya semester 4, yaitu di jeda liburan menuju semester 5. Gilaaa, saya merasa liburan itu adalah liburan paling keren sepanjang saya di Malang! Persiapan mentor dengan materi-materi asik, keliling Kota Malang cari komunitas untuk mahasiswa baru berproses, koordinasi panitia GYF, ngirim-ngirim email ke orang-orang keren yang saya ketemu saja belum (ketemunya baru pas acara GYF di awal bulan Agustus), sampai-sampai kantor PKK itu sudah kayak rumah kedua: makan siang di sana, main di sana, guyon di sana, curhat di sana, ngurus GYF juga di sana. Hihihi. Di antara kesibukan itu, saya juga sempat ikut bantu-bantu di acara Workshop Changemaker School Summit, kegiatan berbagi inspirasi bersama guru-guru dan teman-teman dari Ashoka. Ketemu orang-orang keren lagi, yang benar-benar menebar, menebar inspirasi bagi saya :)
Sejak menjadi mentor, saya belajar banyak hal. Belajar menemukan passion saya (yang belakangan semakin nyata terlihat), menjadi berani untuk mengungkapkan pendapat, berani untuk menjadi teladan yang baik, belajar untuk kerjasama tim, belajar untuk menyampaikan materi dengan baik dan seru, belajar membangun hubungan yang baik dengan orang-orang yang baru dikenal… Ah, banyak sekali hal-hal yang saya pelajari. Seiring menjadi mentor, saya juga memberanikan diri untuk magang di Direktorat PKK dan masuk ke perkuliahan Character Building 3 bagi semester 3 (ikut membawakan materi juga di kelompok kecil dalam perkuliahan itu) dan mengadakan 2 seminar di akhir semester yang memberikan saya banyak pencerahan. Saya mengikuti semua itu di saat banyaknya tugas perkuliahan saya sendiri di semester 5. Betapa! Tapi, ketika semuanya berakhir di bulan Desember 2012, saya merasa seperti orang paling beruntung di dunia. Saya bisa bernapas lega, karena tugas menjadi mentor selesai, tugas-tugas perkuliahan mendapat nilai yang baik, magang pun selesai, 2 seminar dapat diadakan dengan lancar.
Saya bersyukur, titik balik kehidupan saya terjadi di masa kuliah saya, terjadi di usia saya yang ke-20. Saya cuma berpikir, kalau saya tidak mengalami kesedihan pada saat saya putus dengan si B, dan jika tidak ada perekrutan mentor baru, mungkin saya tidak akan mengalami titik balik yang seperti ini. Hehehe. Waktu yang tepat, saat yang tepat. Semua pengalaman-pengalaman ini memberikan arti yang dalam bagi saya, dan saya percaya suatu hari nanti saya akan memiliki kesempatan untuk membagikan pengalaman saya ini kepada orang lain secara langsung. Ketika menjadi guru sanggar saya sendiri, mungkin :)
Setiap orang pasti memiliki momentum titik baliknya masing-masing. Belajar dari peristiwa ini, saya meyakini bahwa setiap momen dalam kehidupan kita akan memberikan dampak bagi diri kita sesuai dengan cara kita menanggapinya. Dampaknya bisa besar, bisa juga kecil. Bisa berdampak baik, bisa juga buruk. Tapi, pasti akan berdampak. Tugas kita adalah belajar dari dampak itu, sebesar apapun itu, sekecil apapun itu, yang baik lanjutkanlah, yang buruk perbaikilah. Kita tidak akan pernah tahu seberapa besar arti momen itu sampai tiba saatnya.
Pada akhirnya, terima kasih untuk semua orang yang telah hadir dan memberikan kesan dalam peristiwa titik balik saya. Secara khusus, terima kasih untuk formasi Direktorat PKK yang keren (Pak Agni yang punya ide-ide keren yang suka saya sebut sebagai Megamind, Kak Rika yang selalu kasih dukungan juga kritik yang membangun, dan Ce Vonny si cece kecil yang enerjik) dan teman-teman mentor yang asik banget (saya kangen berkegiatan bareng kalian lagi). Tanpa kalian, titik balik ini tidak akan pernah terjadi seseru ini. Yeah! :D
Bersama mentor nih :D
Formasi PKK masa itu :D
Pak Agni - Kak Rika - Ce Vonny
PS: Mentor punya syal khusus yang warnanya biru (ada di beberapa foto di atas) yang sampai sekarang masih menjadi kebanggaan saya dan sering saya pakai ke mana-mana, terutama jika cuaca dingin. Saya juga jadi semakin akrab dengan lagu-lagunya Coldplay dan Keane yang selalu diputar Pak Agni ketika kami, para mentor, mengerjakan tugas pada saat berproses bersama. Sekarang jika mendengarkan lagu-lagu Coldplay maupun Keane, memori di kepala saya langsung memutar titik balik ini, lagi dan lagi :D





Tidak ada komentar:
Posting Komentar