Jurnal Sakit Buddy Boy

Senin, 13 Oktober 2025

6 bulan sudah, Muni. Saya benar harus mengurai semua perasaan sedih selama ini. Dan jurnal sakit ini terakhir saya perbaharui di catatan saya di hari Buddy telah pergi. Tidak apa-apa, tidak apa-apa, mengais kembali ingatan untuk memaknai kehidupan yang diusahakan paling maksimal dalam hidup Buddy.

***


Sebelumnya, pernah satu kali Buddy tidur siang dekat saya, dan saya rasa dia mimpi sampai bergerak-gerak dan sedikit pipis. Saya panggil dia sampai dia terbangun; saat itu saya tidak mengerti kalau itu awal mula kejang. Di bulan Januari tahun ini juga Buddy secara tidak sadar mengalami tremor di kepalanya, geleng-geleng sendiri, kecil saja, tapi sekitar 1-2 menit. Saya sangat frustrasi waktu itu, karena Buddy juga panas suhunya sampai menggigil dan muntah di tengah malam.
5 Januari: Muntah berulang-ulang, kepala gemetaran dan geleng-geleng sendiri, pas siang dan tengah malam
6 Januari: Kepala Buddy masih gemetaran dan geleng-geleng sendiri
25 Januari: Buddy menggigil di pagi hari
7 Februari: Musim bulu rontok, Buddy suka tidur melingkar. Bangun pagi dengan kepala gemetar lagi dan demam
8 Februari: Buddy muntah
16 Februari: Buddy muntah lagi di waktu malam
18 Februari: Buddy muntah, ada bekas di kamar waktu kami pulang kerja. Saya perhatikan gemetar di kepala Buddy muncul saat sebelum atau setelah muntah
20 Februari: Buddy muntah dan saya lihat muntahannya seperti potongan kantong plastik merah (?) dan besar
1 Maret: Ada bintik darah (urat?) di mata kirinya Buddy
3 Maret: Kemungkinan Buddy kejang di siang hari sekitar jam 1 sampai 4 sore, tapi kami belum tahu. Ada bekas lengket di belakang pintu seperti air kencing yang sudah kering (?), lihat ketika pulang kerja sore.
6 Maret: Buddy kejang pas tidur jam 2 pagi. Saya sadar karena bunyi dari giring-giring kalungnya berulang-ulang. Kejang kedua di jam 6 pagi, jatuh dari tempat tidur. Kami hubungi dokter hewan untuk dapat suntik dan vitamin, tapi dia juga tidak punya obat untuk kejang. Ada beberapa kali Buddy jalan tapi dia tidak bisa seimbang sehingga berdirinya miring sampai jatuh.
11-18 Maret: Batuk-batuk
13 Maret: Kemungkinan kejang di siang hari sebelum jam 12 karena waktu kami pulang istirahat makan siang, ada kencing banyak di belakang pintu dan Buddy basah sisi pahanya
18 Maret: Buddy muntah seperti susu kental 2 kali
26 Maret: Buddy batuk hampir sepanjang malam
27 Maret: Kotoran Buddy berwarna gelap dan keras
31 Maret: Jatuh dari tempat tidur dan kejang lagi jam setengah 4 pagi. Gejala awal: demam tinggi. Sempat saya pegang dia waktu setengah 1 pagi saya bangun untuk ke toilet dan badannya panas sekali.
1 April: Buddy kejang jam setengah 4 pagi, tapi kali ini tidak diawali demam
4-7 April: Gusi Buddy berdarah hebat, dan waktu darahnya berhenti, dia demam. Saya pakai banyak sekali tisu untuk menyerap darah yang keluar dari gusinya.
5 April: Dua kali Buddy muntah
(8-12 April kami ke Kupang karena mama sakit keras, dan selama kami di sana, Buddy masih terus muntah hingga kami pulang dan saya menemukan sisa muntahannya)
13 April: Buddy ikut ke sekolah. Makan pagi dan siang, malamnya muntah
14-20 April: Kami kasih sirup lambung
16 April: Buddy muntah jam 4 pagi
17 April: Kotoran Buddy awalnya hitam, terus berikutnya sudah kuning bagus
18-19 April: Buddy minta naik di tempat tidur waktu hujan besar. Biasanya kalau hujan besar dia akan gemetaran takut, tapi kali ini dia sangat tenang.
20 April: Buddy kejang jam 3 pagi di kamar, muntah hampir jam 4 pagi di teras. Sorenya, dia sempat bangun untuk jalan tapi kakinya seperti tidak kuat, langsung jatuh. Kejang kedua di jam 6 sore di belakang tripleks teras, tapi kali ini sangat lama baru Buddy kembali sadar. Waktu sudah sadar, saya coba kasi dia makan, dan dia makan setengah porsi saja, lalu minum air. Setelah itu, saya gendong dia dari teras ke kamar. Kejang ketiga di jam 11 malam. Kali ini saat belum sadar, Buddy kentut dan buang air besar. Kaki semua gemetar dan dia tidak bisa bangun jalan.
21 April: Hampir jam 1 pagi saya kasi minum air ke Buddy karena saya dengar seperti ada sesuatu yang tersangkut di lehernya. Dia juga gonggong kecil waktu tidur di belakang saya; kami tidur di lantai. Jam 4 pagi Buddy berusaha bangun dan jalan menuju pintu, tapi dia terjatuh. Saya pegang dia beberapa saat. Lalu saya lihat dia bangun lagi dan mau turun undakan ke teras, dia agak oleng. Andin sedang di bawah undakan teras itu dan sepertinya dia kaget dan menggonggong. Karena Buddy oleng, dia berbaring di depan pintu dan seperti kejang lagi, badannya tidak bergerak. Tidak lama kemudian, saya lihat ada air kencing. Saya nyalakan lampu, Buddy seperti masih kejang. Saya panggil Ka Jef. Mata Buddy membesar, detak jantungnya melemah, dan dia pun pergi.


Buddy boy, sudah berjuang sekali. Terima kasih sudah hidup dalam hidup kami. Saya berharap hidup Muni adalah yang terbaik bersama kami ya. Maafkan saya yang kadang tidak mengerti Muni mau apa. Kadang saya harus pergi agak lama kasi tinggal Muni, tapi Muni tetap sabar menunggu di rumah. Terima kasih ada kesempatan bagi kami untuk bersama Muni di saat-saat terakhir. Maafkan kami karena tidak bisa memberikan perawatan yang maksimal dalam masa-masa sakit Muni; bahkan sampai sekarang kami tidak tahu Muni sakit apa, tidak ada dokter hewan maupun klinik hewan di sini.

Muni, selamat jalan. Sampai jumpa di jembatan pelangi suatu hari nanti. You're the best friend we could ever ask for! Sayang Buddy sekali!


In memory of Buddy Boy
Born: End of 2020
Adopted: 6 Februari 2021
Crossing the rainbow bridge: 21 April 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS