Pertemanan adalah sesuatu yang unik, setidaknya bagi saya. Bagaimana kita bisa bertemu dengan orang yang baik dan ramah, yang punya hobi dan minat yang sama, atau memiliki selera yang sama, atau juga pengalaman hidup yang mirip atau mungkin sama. Dari situ akan timbul rasa sepenanggungan, sehingga hubungan bisa jadi dekat dan hangat. Teman bisa kita temui di mana saja kita berada, misal di sekolah, di tempat kerja, atau dalam perjalanan dari kota ke kota.
Pada suatu titik, saya menyadari bahwa pertemanan bisa saja usai. Seandainya kita pernah punya teman sekelas di sekolah atau kampus kemudian terpisah karena telah lulus dan telah putus kontaknya selama bertahun-tahun dan tidak pernah bertemu lagi dalam tahun-tahun yang kosong itu, pertemanan pun berakhir. Nyatanya tidak semua orang menginginkan sebuah pertemanan itu harus bertahan lama, walaupun dia sendiri tidak bisa memungkiri bahwa mereka mungkin pernah punya minat yang sama atau pernah berada di situasi yang sama. Jangan-jangan pada kondisi inilah minat berteman memudar.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat punya seorang teman yang cukup sering bertukar kabar di media sosial. Saya tahu dia, dan saya rasa dia juga tahu tentang saya, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk berteman saja dengan dia. Berteman dalam definisi saya adalah berinteraksi, bertukar informasi, dan berkomunikasi, bukan sekadar hanya tahu nama. Kami saling bertukar cerita satu sama lain, dan saya kira kami bisa jadi teman baik. Belakangan baru saya tahu kalau ternyata sekarang dia sudah memblokir saya di medsos tersebut dengan alasan yang saya tidak ketahui. Reaksi saya? Saya hanya tertawa terhadap teman saya ini, karena dia memblokir saya tanpa memberitahu saya tahu ada apa sebenarnya. Bagi saya, kami tidak ada masalah, karena percakapan-percakapan kami hanya seputar bertukar cerita tentang kota tempat kami tinggal. Tapi saya lalu paham satu hal: pertemanan bisa saja usai. Teman saya mungkin saja merasa kurang oke berteman dengan saya (tapi biarlah itu menjadi urusannya dia, karena saya sendiri merasa pertemanan kami oke-oke saja) sehingga dia memutuskan untuk menyudahi pertemanan ini dengan cara memblokir. Saya pun tidak merasa apa-apa terhadap dia, karena saya mengerti bahwa mengukur perasaan seseorang tidak bisa menggunakan standar perasaan kita sendiri.
Lingkar pertemanan saya tidak besar memang. Saya sesungguhnya tidak peduli dengan sebanyak apa teman yang saya miliki. Saya lebih peduli pada seberapa baiknya pertemanan saya dengan teman-teman saya yang memilih 'tetap tinggal' dalam lingkar pertemanan saya. Kalau dari jumlah teman-teman saya yang tidak begitu banyak itu ada yang memilih tidak melanjutkan pertemanan dengan saya dan pergi, saya pun tidak ingin menahan mereka. Mereka berhak memutuskan mana yang baik bagi mereka, demikian pula saya. Saya pasti hanya akan bereaksi dengan tertawa, dan kembali melanjutkan pertemanan dengan teman-teman yang 'tetap tinggal'.
Seorang teman pernah berdoa tentang pertemanan, dan dalam doanya dia bilang bahwa teman-teman yang ada sekarang adalah berkat dari Yang Di Atas. Ya, saya rasa saya setuju dengannya.
Lingkaran Pertemanan
Jumat, 31 Agustus 2018
Episode dari serial
monolog
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar