Satu Tahun Ekstra

Jumat, 29 Juni 2018

Tahun 2018 dan masih di Malang, tidak pernah terpikirkan dalam benak saya sebelumnya. Bulan depan terhitung sebagai kegenapan saya 8 tahun hidup di Malang. Waktu yang cukup lama, yang benar-benar tidak terlintas di pikiran saya akan selama itu berada di Malang ketika pertama kali tiba di kota ini tahun 2010.

Banyak hal dan kejadian terjadi. Tentu saja, sayapun banyak belajar. Kuliah 4 tahun + 2 tahun memberikan warna tersendiri. Berkenalan dengan banyak orang dengan karakter yang kompleks, pergi ke banyak tempat, belajar bernyanyi secara kelompok dan bernyanyi sambil bermain alat musik, membaca dan menimbun banyak buku, coba banyak hal baru, mendengar banyak lagu, belajar bahasa, menonton banyak film, melihat banyak teman pergi ke luar negeri untuk sekolah, melihat teman-teman yang lain pulang untuk menikah dan bekerja, mengamati adik-adik yang tumbuh dan menjadi dewasa, patah hati dan mencintai, bekerja di tempat yang tidak terbayangkan, bermimpi yang paling liar dan sedang berusaha mencapainya, ternyata tidak cukup bagi saya untuk bisa memenuhi puncak pencapaian saya. Sementara itu, kurang dari dua bulan lagi saya akan berusia 26 tahun.

Setiap orang memiliki jenis pencapaian yang berbeda. Jenis pencapaian yang dapat membuat hidupnya maksimal jika bisa mendapatkannya. Ada teman yang baginya menikah adalah pencapaian tertinggi dalam hidupnya. Yang lain bilang belajar ke luar negeri adalah pencapaian tertinggi hidupnya. Ada juga yang mengatakan bahwa membangun komunitas yang dapat berintegrasi dengan masyarakat merupakan pencapaian hidupnya. Dan saya senang sekali bila melihat orang yang saya kenal dapat sampai pada pencapaian hidupnya. Saya percaya di balik pencapaian-pencapaian tersebut, ada kerja keras dan kerja cerdas, ada usaha yang luar biasa ekstra, dan ada dukungan dari pihak-pihak terdekat terhadap pilihannya tersebut. Dukungan keluarga, dalam hal ini orangtua, saya rasa memegang peranan penting juga dalam semua pencapaian yang diperoleh seseorang. Bukankah semua tampak lebih mudah dan bisa diraih bila ada dukungan dari orangtua yang selalu menghangatkan hati? Satu pernyataan saja dari orangtua, "Kami dukung semua yang Kakak buat", memiliki energi positif yang baik sekali, menurut saya.

Dari semua impian dan mimpi-mimpi paling liar yang bisa saya pikirkan, ada satu yang paling ingin saya dapatkan: pulang ke NTT. Pulang bukan perkara mudah. Terlepas dari kemelekatan dan nilai historis yang telah ada di sini, pulang adalah suatu momen besar dan langkah besar. Sudah sejak tahun lalu pulang mengusik pikiran saya. Terus-menerus. Dari hari ke hari. Tapi saya sadar, saya masih punya tanggung jawab di sini yang harus saya bereskan. Diam-diam, 'pulang' selalu memanggil saya lewat banyak hal: geliat seni, diskusi buku, pemutaran film, kegiatan komunitas, teater, bahkan alam sekalipun. 'Pulang' telah punya satu ruang khusus di kepala dan hati saya, yang semakin hari semakin meluas.

Satu tahun ekstra akan saya ambil di sini. Satu tahun ekstra untuk mengasah kembali beberapa minat yang kiranya akan bisa saya bawa pulang. Satu tahun ekstra untuk merumuskan kembali apa yang bisa saya lakukan bila waktu untuk pulang itu datang. Satu tahun ekstra untuk memaknai hidup di perantauan ini. Satu tahun ekstra dimulai dari hari ini. Semoga saya bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS