Di hari di mana sekelompok anggota paduan suara pemuda di gereja merencanakan untuk bertamasya ke air terjun, seorang anggota baru menawarkan untuk membonceng saya, karena saya belum dapat boncengan motor. Kami memang berencana berangkat dengan motor. Dengan jumlah kami yang 24 orang, itu berarti kami butuh 12 motor. Noel, atau Nowel seperti saya biasa menyapanya, senang karena sebagai anggota baru, dia akan memiliki teman yang baru juga. Saya pun senang karena ada teman baru yang baik hati mau berbagi sepeda motor dengan saya. Kami adalah teman baru bagi masing-masing.
Nowel adalah pegawai Perhutani yang baru ditempatkan di Malang pada saat itu, dan dia menemukan gereja tempat kami melayani ini karena dekat dengan kantor dan kontrakannya. Dia cepat bergaul, sepanjang perjalanan dari gereja ke air terjun kami banyak bertukar cerita. Dia memberitahu saya bahwa air terjun yang kami datangi ini berada di salah satu hutan tempat tugasnya. Dalam perjalanan pulang, motor kami kehilangan jejak dengan motor teman-teman yang lain, sehingga Nowel dan saya harus nyasar 45 menit ke arah berlawanan dengan jalan pulang, sampai kami harus putar balik ke jalan yang benar karena sadar bahwa jalan sebelumnya semakin asing. Beberapa hari setelah piknik seru itu, Nowel mengajak beberapa anggota paduan suara yang sudah bisa diajaknya mengobrol untuk main ke kontrakannya. Kami masak-masak, makan bersama, main Uno dan sambung kata hingga berjam-jam, sungguh kesempatan yang sangat berharga bagi kami semua yang hadir pada saat itu.
Dalam berjalannya waktu, Nowel semakin pandai berteman. Dia tidak hanya berteman dengan semua teman di paduan suara, tetapi juga dengan kelompok persekutuan pemuda, kelompok penyanyi pengantar ibadah, dan kelompok dekorasi altar. Semua orang yang terlibat dalam pelayanan di gereja kenal dengan Nowel. Kami sering bertukar cerita sebelum latihan paduan suara, atau kadang-kadang keluar nongkrong, dan tahu-tahu Nowel kencan dengan salah satu anggota dari kelompok penyanyi pengantar ibadah. Tetapi hanya sebentar, lalu dia akrab lagi dengan teman-teman yang lain.
Suatu kali, Nowel minta saya untuk jadi pengurus bersamanya di kelompok paduan suara kami setelah dia terpilih menjadi ketua menggantikan kakak ketua sebelumnya yang menikah. Saya mengiyakan, meskipun saya tidak terlalu cekatan untuk mengurus permasalahan kelompok. Nowel percaya saya dan teman-teman pengurus yang lain untuk tugas ini. Di masa ini, kami sering protes tentang badan Nowel yang mulai turun. Padahal di awal-awal, badan Nowel baik dan stabil. Dia sering mengelak kalau dia banyak pekerjaan yang menguras tenaganya. Apalagi yang bisa kami sarankan, kecuali mengatakan ke Nowel untuk rajin makan, makan, dan makan. Dia hanya tertawa. Di masa ini pula, saya mulai dapat pekerjaan penuh waktu, dan mulai kewalahan mengatur kegiatan-kegiatan di luar pekerjaan. Saya mulai menghilang dari kelompok paduan suara, karena repot membagi waktu antara pekerjaan dan jadwal latihan. Saya perlahan pergi, dan pada saat tempat kerja menugaskan saya untuk pindah ke cabang, saya pindah diam-diam, tidak pamit Nowel dan teman-teman pengurus yang lain. Tetapi Nowel tetap mengontak saya seperti biasa, dan dia sadar kalau alasan saya pergi diam-diam karena tentu kita akan bertemu kembali. I don’t like good byes, of course, I prefer see you agains. In the time of pandemic, kami masih berkabar, ketawa-ketiwi, dan saling bertukar ‘semoga sehat selalu ya!’.
Hari ini adalah ulang tahun Nowel ke-29. Hari ini pula saya dikontak oleh teman saya, Kak Tune, kalau Nowel sudah berpulang. Kepala saya sakit, leher saya tercekat, dan air mata menggenang di pelupuk mata. Saya menelan air mata-air mata dalam perjalanan istirahat makan siang dari kantor. Ingatan saya memutar semua kenang-kenangan bersama Nowel dan paduan suara kami. Sedih luar biasa, terlalu sedih, karena Nowel, teman baik saya, teman baik kami, seorang muda yang pintar berteman dan suka menolong, penuh masa depan, hari ini sudah pulang ke rumah Bapa. Nowel pergi sendirian, mungkin malam tadi adalah malam yang berat baginya. Atau mungkin justru malam paling tenang baginya. Bagaimanapun, Nowel yang sendirian sangat membuat saya sedih.
Nowel, sampai bertemu kembali. Sampai bertemu kembali di rumah Bapa. Nowel selalu ada di ingatan saya, di ingatan teman-teman sepelayanan di Malang. Selamat merayakan ulang tahun di sana, selamat bernyanyi bersama paduan suara malaikat di surga.
Nowel yang Baik
Rabu, 21 September 2022
In memoriam, our beloved friend, Imanuel T. 21 September 2022.
Episode dari serial
monolog
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar