Sejak 2019 pindah ke Waingapu, baru tahun ini saya dapat kesempatan untuk nonton Pasola di Sumba Barat. Pasola adalah ritual adat tahunan yang dilaksanakan di Sumba Barat, dan tahun ini Pasola Lamboya diadakan pada tanggal 1 Februari, bertepatan dengan tanggal merah Imlek. Sesuai tradisi, Pasola adalah tradisi perang adat di mana kelompok penunggang kuda saling kejar-mengejar dan berhadapan untuk melempar lembing kayu ke arah lawannya. Ada 3 tempat penyelenggaraan Pasola, dimulai dari Lamboya (kampungnya Kak Jef) pada bulan Februari, lalu Wanokaka dan Gaura di bulan Maret. Untuk tanggalnya, biasa ditentukan oleh para rato berdasarkan perhitungan bulan dan tanda-tanda alam.
Mumpung tanggal merah ya, saya dan Kak Jef juga beberapa teman guru berangkat ke Sumba Barat dari Waingapu sejak subuh tanggal 1 itu. Sampai di Waikabubak kira-kira jam 9, kami langsung meluncur ke Lamboya. Rupanya jalanan sudah sangat-sangat ramai dan macet, sehingga cukup sulit bagi mobil teman-teman untuk bisa sampai di lapangan Pasola tepat waktu. Saya dan Kak Jef pakai motor (karena saya mabukan kalau naik oto wkwkk), jadi kami bisa salip-salip cari celah di jalan. Selain kendaraan yang ramai dan macet, orang-orang juga berjalan kaki. Bisa dibayangkan betapa padatnya situasi itu. Karena tiba lebih awal, kami pergi dulu ke rumah Kak Jef untuk minum kopi, baru kami ke lapangan. Saya turun sendiri ke lapangan, karena Kak Jef harus mencari teman-teman kami yang masih terjebak kemacetan di jalanan menuju lapangan. Agak deg-degan karena saya seperti anak hilang hahaha, pakai sarung, topi bucket, kaos oblong, ransel, dan gantung kamera. Jalan ke sana ke mari cari tempat bagus untuk foto, tapi tidak berani maju ke depan, karena takut kena lempar kayu dari para penunggang kuda. Jadinya cari aman, jalan di sekitar kerumunan orang dan memotret apa saja yang bisa saya dapat.
Mungkin ada sekitar 30an menit saya menonton sebelum akhirnya acara berakhir. Saya ketemu dengan Kak Jef, dan dia bilang dia tidak menemukan teman-teman. Berusaha kontak-kontak, akhirnya kami lihat teman-teman di dekat tribun. Mereka pikir kegiatannya masih lama, jadi mereka duduk-duduk dulu. Ternyata kegiatannya cepat selesai, karena masih masa pandemi dan tidak boleh terlalu lama ada di kerumunan. Alhasil, mereka tidak dapat nonton. Kami lalu pergi ke rumah Kak Jef untuk makan siang dan beristirahat.
Ketika sore, kami harus segera balik ke Waingapu, mengingat waktu tempuh adalah 4 jam, jadi semakin cepat kami balik semakin cepat kami tiba. Kak Jef mengajak kami untuk mampir sebentar ke Pantai Kerewei, supaya meskipun tidak dapat foto nonton Pasola, setidaknya ada foto main di pantai hehehe.
Setelah foto-foto, kami pun pulang ke Waingapu. Capek, tapi tidak terlalu kecewa, karena bisa refreshing ke Sumba Barat ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar