Pulang

Selasa, 15 November 2016

Apakah yang lebih puitis dibandingkan buncahan cinta dan kasih yang pecah di langit barat, berpendar di sekeliling bulan paling sabit?
Apakah yang lebih puitis dibandingkan kelaga yang sejuk, tidur bersama Nenek terakhir, memikul kayu bakar, mendengar dialek yang paling mula di tengah-tengah pohon-pohon tuak yang menyimpan gula air paling enak?
Apakah yang lebih puitis daripada batu-batu cadas yang berderet di tanah kering, dihujani panas sepanjang hari, garam-garam terbaik di pinggir pantai dan kelapa, jalan-jalan setengah aspal setengah berlubang, dan keringat sepanjang hari?
Di antara semua itu, Sabu sedang menanam bibit cintanya sampai kudatang kembali.


Pelabuhan Seba, Sabu
5 November 2016, 08:44am WITA, di atas kapal cepat menuju kembali ke Kupang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS