Oktober diawali dengan kepulangan Kak Jef ke Sumba karena papanya sakit. Pertama kalinya dalam setahun ini saya ditinggal pulang oleh Kak Jef di bulan Oktober. Rencana kepulangan Kak Jef sebenarnya hanya dua minggu, tetapi papanya dipanggil pulang oleh Sang Pencipta di akhir minggu pertama sehingga membuat dia harus berada di Sumba bahkan sampai Desember yang akan datang. Penguburan papanya telah dilaksanakan di bulan Oktober, tapi ternyata di Sumba masih ada acara adat sebagai tanda penguburan resmi yang baru bisa diadakan di bulan Desember (karena sebenarnya bisa langsung dilakukan di bulan November, tapi ternyata bulan November adalah bulan pamali di sana, sehingga diundur ke bulan Desember). Sayang sekali saya tidak bisa berada bersama Kak Jef di saat-saat seperti itu karena jarak yang terlalu jauh, Malang-Lamboya (Sumba Barat), juga masih ada urusan saya di Malang yang belum terselesaikan, sehingga semoga doa mampu menenangkan hati yang bersusah dan bersedih.
Seminggu berikutnya, saya wisuda magister di akhir pekan. Saya menginap di kos adik saya yang lebih dekat dengan kampus, dia membantu memakaikan bedak dan lipstik dan membenahi rambut saya yang mulai panjang menjadi lebih menarik (walaupun tidak dikonde sih), dan temannya membantu mengantarkan saya ke balai kampus untuk mengikuti acara wisuda. Acara yang berlangsung dari pagi hingga siang itu membawa beberapa teman paduan suara gereja yang begitu baik hati dan penuh kasih sayang meluangkan waktu untuk datang dan memberikan bunga-bunga cantik tanda selamat bagi saya di kampus. Kami makan siang bersama, lalu saya kembali pulang ke kosan. Malam harinya, teman kos saya yang juga wisuda hari itu mengajak kami sekosan (tapi khusus yang lantai dua saja hehehee, saya termasuk juga) untuk makan malam bersama merayakan keberhasilannya menyelesaikan studi D3-nya. Jadilah saya bisa berkenalan dengan beberapa teman yang belum pernah mengobrol (hanya senyam-senyum kalo berpapasan di dapur kos atau lorong menuju toilet) dan mereka juga jadi tahu nama saya ahahaha. Terima kasih telah meramaikan hari wisuda saya, meskipun nebeng acara teman wkwkwk.
Minggu terakhir di bulan Oktober, saya di rumah, menghabiskan waktu hanya di rumah. Membantu adik bungsu mengerjakan prakaryanya, membantu Mama menjaga toko, pinjam tethering dari ponsel Papa, bercerita ngalor ngidul dengan tetangga saya, Bernard. Gara-gara bercerita bersama Bernard ini, Mama mencetuskan ide supaya saya dan Bernard jalan-jalan lah merayakan kelulusan. Saya tambah bersemangat lagi karena Papa tidak berkeberatan, bahkan menyetujuinya. Di kepala saya langsung menentukan tempat jalan-jalannya: Sumba! Sekalian menengok Kak Jef dan jalan-jalan di seputarannya. Sayang sekali, kesempatan ini harus ditunda, karena Kak Jef sedang sibuk membuat kubur papanya, sehingga agak susah kalo misal saya dan Bernard datang dan minta untuk diajak jalan-jalan. Paham dengan kondisi itu, saya tidak berniat lagi untuk jalan-jalan. Ya sudah, liburan di rumah aja gitu. Di akhir bulan juga adik bungsu saya yang sudah besar ini ulang tahun. Saya ajak ke Gramedia untuk beli beberapa buku, juga ke toko roti di sebelah untuk membeli roti. Syukurlah dia senang. Iya sih, saya anaknya suka nyenengin orang-orang dekat. Hehehe. Oh iya, waktu di Gramedia Kupang saya ketemu buku 'Sepotong Senja untuk Pacarku'-nya Seno Gumira Ajidarma yang sudah saya cari kemana-mana, langsung deh beli. Akhir-akhir ini memang sedang menggemari karya SGA.
Kalo dipikir-pikir lagi, mungkin sebenarnya Semesta memang mau membuat saya senang ketika pulang karena saya sudah jadi mahasiswi baik selama 4 semester (walau kadang agak malas, tapi semoga diampuni). Om saya yang di Sabu, Om Beta, menelepon Mama dan bilang gimana kalo saya main ke Sabu saja. Saya memang pernah sesumbar waktu masih di Malang kalo pengen ke Sabu setelah selesai wisuda. Mau menengok Om Beta (om saya yang menjaga saya ketika saya bayi sampai saya SD karena masa itu Papa dan Mama bekerja) dan menengok Nenek (yang tinggal satu, karena kakek-nenek kandung saya yang lain sudah meninggal). Om Beta masih ingat soal itu, jadi ketika tahu saya sudah di Kupang, minta supaya saya ke Sabu dulu. Akhirnya, teman-teman, saya pun menuju Sabu dengan hati penuh!
Nggg, yang ga tau Sabu itu di mana, monggo cek peta Nusa Tenggara Timur dan perhatikan pulau kecil antara Pulau Sumba dan Pulau Rote. ;)
Minggu pertama November menjadi minggu yang paling kenyang sepanjang tahun ini, karena saya di Sabu terus ditawari makan oleh Nenek, Om Beta, Bea Hari, juga Nenek kecil di sebelah rumah Nenek. Hahaha. Mereka begitu gembira saya ada di sana. Om Beta menjemput saya di Pelabuhan Seba. Adik-adik sepupu saya yang masih sekolah juga senang minta ampun saat tahu saya datang berlibur di sana. Mereka rebutan saya harus tidur di rumah siapa. Hehehe. Saya di sana dari hari Senin dan pulang di hari Sabtu. Tidak banyak memotret, karena kebetulan saku celana rumah yang saya pakai robek, sehingga tidak bisa digunakan untuk menaruh ponsel di dalamnya. Jadilah ponsel saya disimpan dengan aman di dalam ransel dan baru menggunakan ponsel di malam hari untuk menghubungi Kak Jef. Lagi-lagi saya di Sabu hanya untuk menikmati suasana rumah, baik rumah Nenek, rumah Om Beta, rumah Be'a Hari. Rumah di sana memang deket-deketan. Jangan dibayangkan kayak perumahan di Jawa yaa. Rumah di Sabu ga ada pagarnya dan punya halaman yang luas-luas. Rumah Nenek adalah rumah panggung. Di antara rumah Nenek dan rumah Om Beta, ada kuburan Kakek saya (suami Nenek) dan saudara-saudari Kakek dan Nenek yang sudah meninggal. Sementara kalo rumah Be'a Hari harus jalan ke depan sedikit, dekat Puskesmas.
Selama seminggu di sana, saya menikmati tidur di rumah panggung, dimasakin Nenek sayur bayam dan daging yang sungguh enak, mengambil kayu bakar bersama Nenek dan adik-adik, memetik kersen langsung dari pohonnya di depan bengkel Om Tosi, dibikinkan makan-makan bersama oleh Om Beta dan Tante Koro yang dihadiri oleh keluarga sekitar, tidur bersama adik di dalam kelambu, mandi di kali bersama Nenek, pergi ke pabrik air kemasan yang baru buka bersama Om Beta dan Tante Koro lalu lanjut ke Pelabuhan Biu ketika senja, diajak Om Beta melihat tambak garam di Pantai Bali yang berada di desa tetangga, melihat pondasi rumah Om Beta yang akan dibangun rumah tahun depan, melihat adik-adik yang suka berceloteh sana-sini dan tidak bisa diam, menemani Nenek menonton sinetron kesukaannya, mati lampu dan bertukar cerita bersama Om Beta, tidur di rumah Bea Hari dan bertemu sepupu-sepupu yang sudah ganteng-ganteng, dapat gelang kea (penyu) yang cakep dari sepupu cantik yang pintar bikin kue, mendengar adik-adik yang bersekolah, main teka-teki, bikin kuis perkalian jawab cepat-cepatan, bikin kacang gula, diledekin adik-adik Tante Koro karena celana jins saya yang tidak pernah dicuci selama di Sabu, minum air tuak di rumah Nenek kecil di dekat pelabuhan, membantu Nenek membuat jagung tumbuk untuk dibawa bagi Mama di Kupang. Semuanya ini saya tidak punya dokumentasi. Hanya senja di Pelabuhan Biu saja yang sempat saya foto dan foto bersama adik-adik sepupu beberapa saat sebelum saya pulang.
Saya datang ke Sabu tanpa persiapan, tetapi diberikan hal-hal baik. Mungkin Semesta sengaja menghadapkan saya dengan kenyataan itu, dan ingin saya merekam segalanya dengan ingatan saya yang terbatas ini dan menikmati setiap momen. Pulau Sabu adalah pulai yang begitu puitis. Pucuk baratnya ketika matahari terbenam begitu manis, sehingga saat saya sedang memegang ponsel pun, saya terlalu terpukau dengan keindahan senja itu sampai tidak kepingin untuk memotret. Saya pulang di hari Sabtu pagi dengan perasaan yang masih terikat dengan Sabu. Adik-adik menangis sebelum mereka berangkat sekolah, tidak rela saya harus kembali ke Kupang. Nenek menangis ketika saya minta dicium. Om Beta tidak mau dicium. Mungkin cium akan menimbulkan ketidakrelaan yang lebih besar lagi. Mungkin cium itu juga yang membuat Nenek menangis tersedu-sedu di lututnya, juga adik-adik menangis sampai mata mereka bengkak dan merah sampai di sekolah. Saya pulang di antar Bea Lomi ke Pelabuhan Seba, 25 km dari Sabu Timur, dan menekan kesedihan saya kuat-kuat di dada. Kalau saya menangis, akan tambah memilukan hati Nenek dan adik-adik yang sedang tidak rela. Saya senyum untuk menguatkan hati mereka, saya bilang nanti saya akan datang ke Sabu lagi. Saya berniat mengabadikan semua kemurahan hati Sabu ini dalam sketsa. Semoga sampai akhir tahun bisa terselesaikan. Nanti saya posting juga di blog kok hehehe.
Pulang ke rumah Kupang, di minggu kedua bulan November, saya dibikinkan acara ucapan syukur atas wisuda oleh Papa dan Mama. Ibadah syukur itu sekaligus syukur untuk adik Qty yang selesai UTS, adik Ayang yang ditahbiskan sidi, adik Ika yang ulang tahun. Pencipta begitu baik bagi Papa dan Mama yang saya tahu mereka begitu berbangga sekali atas peristiwa besar di dalam kehidupan anak-anak mereka. Di momen syukuran ini, saya juga jadi bisa bertemu dengan keluarga di Kupang, teman-teman masa kecil semasa SD dan beberapa teman SMP dan SMA. Terima kasih semua yang telah datang.
Minggu ketiga, ada tetangga yang anaknya menikah dan meminta Papa menjadi saksi. Sudah tradisi di sini apabila ada acara di tetangga, beberapa hari sebelumnya pasti akan ada bantu-bantu di rumahnya. Mama dan Papa yang pergi untuk membantu keluarga yang akan menikahkan anaknya itu. Acara yang memakan waktu hampir seminggu itu kemudian selesai, sehingga di hari Sabtunya saya kembali ke Malang. Mama, sebagaimana dikatakan Papa, menangis juga ketika saya kembali ke Malang.
Berbekal satu ransel pakaian, satu botol gula Sabu, satu toples jagung tumbuk buatan Nenek, gula semut Sabu, di sinilah saya, kembali ke Malang untuk mengurus lembar pengesahan tesis yang tidak mungkin saya lupakan. Hehehe. Tadi sudah dapat satu dosen, tinggal tiga dosen lagi tanda tangan. Minggu ini semoga bisa dibereskan, sehingga minggu depan bisa dijilidkan. Saya juga minggu ini sekalian bantuin teman mengoreksi proposal tesisnya sebelum maju seminar. Semoga semuanya lancar.
Untuk sementara, saya tidak aktif dulu di pelayanan paduan suara gereja untuk Natal. Saya merasa saya mau menikmati ibadah Natal tahun ini di bangku jemaat bersama Kak Jef. Mungkinkah ini Natal terakhir kami di Malang sebelum kami kemudian bisa jadi beranjak ke kota lain untuk bekerja? Entahlah.
Saya tahu akan ada berbagai hal yang akan tiba dan akan dihadapi. Tetapi saya bersyukur untuk peristiwa-peristiwa yang penuh dinamika dalam beberapa minggu terakhir ini. Pencipta begitu cermat memelihara saya dan kehidupan orang-orang terdekat saya. Maka saya pun percaya, masa depan baik telah disediakan-Nya bagi saya. Saya hanya perlu berjalan dengan iman, bukan?
Panas di Sabu dan di Kupang, juga hujan di Malang pun, tetap patut diterima sebagai rahmat.
:)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar