Bagi saya, waktu sangat penting dalam setiap lini kehidupan. Rasanya tidak ada seharipun saya tidak melihat jam. Mengetahui pukul berapa sekarang membuat saya dapat mengira-ngira apakah pekerjaan yang sedang saya lakukan bisa selesai lebih cepat atau lebih lama. Atau juga dapat membantu saya mereka-reka satu-dua jam lagi harus melakukan apa. Bangun pagi, lihat jam, mengingat hari kemarin, apakah hari ini saya bangunnya lebih awal atau lebih telat. Mengerjakan sesuatu, lihat jam, apakah saya sudah menyelesaikannya lebih cepat dari sebelumnya atau lebih molor dari sebelumnya.
Sudah sejak lama saya melepaskan kebiasaan melihat jam di ponsel dan menggantinya dengan arloji di pergelangan tangan. Lebih praktis menggunakan arloji daripada kalo saya lihat jam di ponsel dan ponsel di dalam tas, saya harus mengambil tas saya, membuka resletingnya, menekan tombol di pinggir ponsel, baru jamnya nongol. Bandingkan dengan usaha yang saya lakukan bila hanya tinggal melirik arloji. Angkat tangan, lihat, sudah. Lebih selesai perkara. Lagipula, saya tidak terlalu suka membuka-buka ponsel di depan orang kalo sedang ngobrol, walaupun itu hanya untuk mengecek jam. Kesannya jadi kurang memperhatikan obrolan. Hehehe.
Di kamar kos, ada satu weker sebagai penanda waktu. Detiknya bergerak dan membuat bunyi, sehingga membiasakan saya untuk beraktivitas maupun beristirahat dengan bunyi perjalanan detik di dalam jam weker bundar itu. Akan aneh rasanya jika masuk kamar dan tidak terdengar bunyi detik weker. Mungkin itu yang membuat saya agak janggal minggu lalu, ketika Kak Jois dan Ones sedang berkunjung di kamar dan kamar terasa sepi. Sepi ya, padahal sudah ada tiga orang di kamar, termasuk saya hahaha. Setelah diperhatikan, jam weker saya mati karena kehabisan batre. Alhasil, saya jadi agak gelisah beberapa hari setelahnya karena tidak ada bunyi detik weker dan jam mati setiap kali saya melirik weker tersebut. Dalam beberapa hari itu, saya pun lupa membeli batre, sehingga membuat saya harus menggunakan arloji sepanjang waktu, kecuali pas mandi. Ternyata saya baru sadar kalo saya kurang nyaman menggunakan arloji saat tidur. Kalo pakai arloji pas keluar beraktivitas sih biasa, kalo sudah mau tidur dan masih pake arloji itu yang agak janggal.
Tadi sore akhirnya saya ingat harus membeli batre di swalayan. Bunyi detik weker pun terdengar lagi, dan saya sudah tidak harus menggunakan arloji ketika tidur. Hihihi.
Jam Weker
Selasa, 11 Oktober 2016
Episode dari serial
monolog
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar