Grogi

Kamis, 20 Oktober 2016

Besok saya meninggalkan Malang. Menuju kota Jogja, karena adik akan sidi di hari Sabtu. Lalu hari Minggu, bersama Bapak akan pulang ke Kupang. Terakhir saya pulang ke Kupang adalah saat Natal 2013, dan kembali ke Malang Tahun Baru 2014. Dua tahun berselang hingga momen ini tiba lagi. Sebenarnya saya masih punya tanggungan di kampus untuk menyelesaikan lembar pengesahan tesis saya (supaya bisa dijilid dan masuk perpus, lalu diperbolehkan mengambil ijazah), tetapi saya tidak melihat peluang lagi kapan saya bisa pulang Kupang, maka langsung saja pulangnya sekarang. Rencana akan balik ke Malang di pertengahan November untuk mengurus segala kelengkapan dan mengambil ijazah, hingga benar-benar tidak ada urusan lagi dengan kampus, barulah saya mulai melamar kerja. Masih penasaran bagaimana bekerja di pulau yang kepadatan penduduknya paling banyak dengan kemajuan peradaban yang pesat, membuat saya berpikir jika saya tidak liburan pulkam sekarang, mungkin saya tidak tahu lagi kapan harus pulang kalau saya sudah masuk kerja.

Ada perasaan aneh yang menjalari saya di hari terakhir di Malang, hari ini. Semacam grogi. Entah apa yang membuat saya grogi, saya bingung juga. Setiap kali pulang, saya tidak pernah merasa grogi. Kenapa kali ini begini ya? Grogi karena pulang ke rumah sendiri, aduh! Saya juga heran. Saya menghabiskan seharian ini di kos, membaca novel 86-nya Mbak Okky (yang membuat saya merinding setengah mati!), makan mie instan (hal paling jarang dilakukan 4 tahunan terakhir ini), lalu tidur-tiduran sambil nonton tivi di kamarnya Kak Jois. Terakhir sebelum menulis tulisan ini, saya menyempatkan mengepak bawaan saya (satu tas ransel) dan mendengar radio di saluran favorit. Agak meredam grogi saya memang. Tapi sepanjang sore sampai sekarang, kepala saya sakittttt berat. Apakah itu puncak dari grogi saya? Entah. Saya masih belum habis pikir mengapa saya bisa grogi seperti ini. Mungkin nanti sepanjang perjalanan saya akan memikirkannya, karena sekarang kepala masih sakit untuk berpikir yang njlimet.

Besok pagi saya berencana naik angkot ke Terminal Arjosari (Malang), lalu naik bis menuju Terminal Purabaya (aka Bungurasih, Surabaya), melanjutkan naik Damri Bandara menuju Bandar Udara Juanda, Surabaya, untuk bertemu Bapak dan melanjutkan perjalanan dengan pesawat ke Bandar Udara Adisucipto, Jogja. Semoga kegrogian saya ini bisa reda, supaya saya tidak harus sakit kepala dalam perjalanan.

Sementara sedang mengejar keterlambatan Inktober, sehingga perjalanan ini juga mungkin akan membuat Inktober saya tunda, lagi, sedikit. Hehehee.

Semoga hari Minggu saya masih waras setiba di rumah.

Since tomorrow, I'm gonna miss this view for next 2-3 weeks.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS