Siapa yang menyangka bahwa makan malam bersama dengan beberapa teman padus membuat saya kembali ke gunung? Saya juga tidak tahu. Waktu itu hari Minggu, 17 Mei, saya ibadah sore, lalu ketika mau pulang, saya bertemu beberapa teman padus yang juga ibadah sore; Ribka, Noel, Ebin, Jun, Ewin, dan seorang teman yang baru saya kenal, Erwin. Kami kemudian saling mengajak makan bersama, dan langsung berangkat. Deket kost saya, jadi pulangnya ga buru-buru. Hehee. Pas lagi nunggu makanan datang, Ewin mengajak saya, Ebin, Ribka, dan Noel untuk ikut mereka ke Gunung Panderman di hari Kamis, tanggal 21 Mei. Saya dan Ebin mengiyakan, mumpung kami memang tidak ada kegiatan di hari itu, tapi Ribka dan Noel ga bisa ikut, sebab mereka ada kegiatan kampus dan kantor. Kata Ewin, kami akan bersama beberapa teman dari komisi pemuda gereja. Oke baiklah.
Di hari Rabu malam, kami sepakat berkumpul di kostnya Jun untuk mempersiapkan segala sesuatunya (termasuk minjam kompor ringkasnya Isno, teman kami yang tidak ikut mendaki) dan berangkat bersama. Mulai menuju kaki Gunung Panderman di jam 1 pagi dengan sepeda motor, kami sempat foto-foto bentar pas liat pemandangan kece di tengah perjalanan. Hahhaa.
Sampai di pos terakhir di kaki gunung jam setengah 3 pagi (agak telat dari perkiraan, sebab kami masih harus menunggu bapak yang jaga pos bangun), kami meninggalkan sepeda motor dan mulai mendaki. Di benak saya, kami akan mendaki selama 1 jam. Jadi, saya mengira mendaki ga terlalu jauh. Selain itu, saya juga pikir medannya mungkin akan sama seperti Gunung Bromo yang saya daki tahun lalu. Dengan semangat begitulah, saya mulai mendaki.
Sayangnya, saya keliru. Perjalanan sampai puncak memakan waktu 3 jam! Hahaa. Belum lagi kami, yang perempuan, suka minta istirahat di jalan. Tapi untungnya teman-teman laki-laki sungguh pengertian dan penuh perhatian, mereka benar-benar menuntun kami hingga sampai di atas gunung. I'm grateful to have friends like them! Sudah dengan sabar menuntun, mereka juga yang membawa tas-tas kami. Si Vaka malah lebih kece. Dia bawa 3 tas kami, dengan satu tangan pegang kompor, dan tangan yang pegang ponsel, siap-siap kalau kami minta istirahat dia bisa lanjut main game COC. Hahaa.
Setelah mendaki selama 3 jam, kami tibalah di puncak jam 6 pagi! (tentu saja kami mengalami sunrise di tengah perjalanan, hehee) Yes! Oh, how great God's art of this world! Dari atas puncak Panderman, kami bisa menikmati Gunung Arjuno dan Semeru di depan mata, dengan hijau-hijau terbentang di bawahnya. Di atas puncak Panderman, banyak pohon-pohon rindang, bisa tidur siang di bawah pohon. Cuma, yaa gitu, banyak juga monyet-monyet di sana. Saya agak takut sih, mereka banyak, dan ketika kami mulai membuka makanan kami lalu masak-memasak, mereka mulai datang mendekat. Oke, Ewin dengan tangguh akan mengusir mereka. Hahaa.
Erwin yang pake baju hitam biasa saya panggil dengan nama 'Ewin'
Erwin yang pake baju merah yang rajin mendokumentasikan perjalanan kami
Setelah makan, kami beristirahat, foto-foto, membersihkan lagi tempat yang kami datangi (ga boleh sampah ditinggal), kami turun gunung jam 10. Turun gunung ternyata membutuhkan waktu 3 jam! Hahahaa. Saya sempat terkilir kakinya, sehingga agak susah berpijak. Untung ada kayu panjang yang menolong saya :)
Tiba di pos tempat kami memarkir sepeda motor jam 1, kami istirahat sebentar sambil borong cilok yang ada di situ hihihi. Kemudian, kami kembali ke Malang, mampir makan di daerah ITN, barulah kami pulang ke kost kami masing-masing.
Perjalanan ke Panderman sungguh menyenangkan. Foto-foto di atas mungkin bisa memperlihatkan bagaimana kami sepanjang perjalanan. Terima kasih banyaaaaaak untuk: Ewin, yang sudah sabar banget menyemangati kami supaya sampai puncak dengan kata-katanya '5 menit lagi sampai!'; Ebin, yang sudah minjami saya jaket karena pas banget bawa 2; Tiara dan Maria, teman baru yang kece-kece; Erwin, yang sudah mendokumentasikan banyak foto kami sampai dia sendiri jarang ada di foto; Jun, yang jadi paling belakang untuk menjaga rombongan; Ayub, yang selalu nolongin kalo harus naik melewati akar-akar pohon yang besar; Vaka, untuk bantuan membawa tas dan teman seperjalanan turun gunung karena kaki saya terlalu terkilir di jalan menurun; Erfan, yang paling suka selfie sepanjang jalan. Terima kasih semuanya! Terima kasih Panderman untuk kisah menyenangkan sebelum Pentakosta ini! Terima kasih, Pencipta Semesta! :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar