Pergi Keluar

Senin, 23 Maret 2015

Sudah seminggu lalu saya melakukan rutinitas yang menjemukan. Di kost seharian penuh, keluar hanya untuk beli makan, lalu kembali lagi ke kost. Hari ini, saya memutuskan untuk keluar, meyakinkan diri untuk mengunjungi toko buku, walau sekadar melihat buku-buku rapi berderet di raknya.

Semacam 'pelarian' bagi saya dari rutinitas. Selingan.

Saya keluar berjalan kaki dari kost menuju jalan raya jam 10 pagi, seperti biasa melewati kost teman saya. Tidak disangka, saya bertemu dengan teman saya, Windy, di depan pagar kostnya. Kami saling menyapa dan kemudian saya mampir sebentar untuk berkabar dengannya. Dia bercerita banyak hal, saya bercerita banyak hal, dan pada akhirnya, kami memiliki tekad yang sama untuk melamar beasiswa tahun depan. Oh iya, Windy ini adik semester saya di kampus S1, dia baru akan lulus tahun depan. Momen berbagi inspirasi itu berlangsung sejam, dan saya pamit untuk melanjutkan rencana saya menuju toko buku. Hari sudah siang, cukup panas.

Sampai di angkot, penumpang yang naik hanya 3 orang. Seorang mbak, seorang ibu, dan saya sendiri. Ketika angkot bergerak berangkat, si ibu membuka bungkusan biskuit (salah satu biskuit favorit saya) dan menawarkan kepada si mbak, tetapi ditolak. Si ibu menawarkan juga kepada saya, dan yah, mungkin saya berbakat menjadi Putri Salju, karena saya dengan senang hati mengambil satu biskuit dari bungkusan itu. Kenapa saya melakukan itu? Karena saya melihat bahwa biskuit itu baru dibeli dan baru dibuka di dalam angkot saat itu juga, dan si ibu ikut memakan biskuit itu. Namun karena biskuit itulah, saya berbincang dengan si ibu, dan mengetahui bahwa beliau adalah alumni pascasarjana dari kampus S2 saya, dan beliau adalah dosen teknik sipil di S1 kampus pascasarjana saya. Beliau adalah seorang yang ramah, dan sekali lagi saya menemukan inspirasi untuk segera menyelesaikan studi S2 saya, karena beliau sendiri berkata bahwa studi S2-nya selesai dalam kurun waktu 1,5 tahun dengan predikat cumlaude. Asik banget ini jadi membakar (?) semangat saya untuk memperoleh prestasi seperti beliau.

Perjalanan selama seperempat jam membawa saya turun (tidak lupa berterima kasih kepada si ibu) di depan alun-alun dan berjalan kaki sebentar agar sampai di toko buku. Baru sampai di pintu masuk saja untuk menitipkan tas saya, aroma melegakan sudah tercium: parfum buku. Saya naik ke lantai dua, menemukan diri saya berdiri di tengah-tengah deretan buku-buku yang tersusun rapi dan sungguh menyenangkan hati. Saya menelusur setiap rak, menikmati gambar sampul buku-buku itu, kadang mengintip juga isinya jika sampul plastik sudah dilepas. Banyak buku bagus di sana, tetapi saya memutuskan untuk membeli satu buah buku saja, yaitu Kukila karya Aan Mansyur. Rasa-rasanya saya tidak sadar saya berada di toko itu, khususnya di lantai dua itu selama kurang lebih satu jam lebih, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk membayar buku itu dan turun ke lantai satu. Di lantai satu, saya memanjakan mata dengan melihat beraneka macam cat air dan buku gambar yang, duh bikin gemes!, kemudian pergi ke tempat penitipan barang untuk mengambil tas saya, lalu berjalan meninggalkan toko buku.

Saya berjalan sepanjang satu buah lagu untuk naik angkot menuju toko buku lain di dekat kost saya. Perjalanan memakan waktu sepuluh menitan. Saya turun di depan sebuah supermarket untuk membeli teh favorit, lalu masuk ke toko buku itu. Jaraknya memang dekat dengan kost saya, dan toko buku ini yang paling sering saya datangi. Saya naik ke lantai dua dan kembali menikmati nyamannya berjalan-jalan di antara buku-buku, melihat bahwa buku yang ingin saya beli masih ada (sengaja tidak beli sekarang karena bulan depan tante saya pulang ke Indo dari KL dan berjanji mau membelikan saya buku di sini), kemudian melihat-lihat buku yang lain. Saya keluar dari toko buku itu tanpa membeli sebuah bukupun (kelakuan!) dan ketika dalam perjalanan pulang -- jalan kaki -- saya mampir ke sebuah warung pecel yang masih buka. Meminta sebungkus nasi pecel untuk dibawa pulang, membayar, lalu berjalan kaki menuju kost. Hari sudah hampir sore.

Saya makan nasi pecel itu (yang ternyata enak banget! Besok-besok beli di situ lagi ah!) sambil mengecek ponsel saya. Ternyata ada pesan dari teman padus gereja saya bahwa salah seorang teman kami, Kak Devi, lagi opname di rumah sakit karena DB, dan mengajak saya untuk menjenguknya. Teman saya yang lain juga mengirimkan pesan di aplikasi chat, bahwa dia akan menunggu teman-teman yang mau ikut menjenguk karena rumah sakitnya agak jauh dari kost kami. Selesai makan, saya kembali keluar kost, naik angkot menuju gereja (titik kumpul), dan setelah berkumpul dengan teman-teman, kami berangkat menuju rumah sakit.

Kak Devi tampak pucat, tetapi banyak yang datang menjenguknya sehingga dia terlihat senang. Kami mengobrol sebentar dengannya, mengetahui bahwa di akhir pekan dia akan menjalani ujian di Jakarta (akak Devi adalah seorang dokter yang sedang kuliah spesialis), lalu kami pamit setelah berdoa bersama untuk kesembuhan Kak Devi dan kelancaran ujiannya. Kami kembali ke titik kumpul, gereja, teman-teman kembali pulang ke tempat mereka masing-masing, saya kembali naik angkot dari gereja menuju kost. Sampai di kost, saya istirahat sebentar, lalu mandi, dan membaca jurnal untuk tugas kuliah minggu depan.

Hari ini masih hari Senin, dan saya masih punya waktu 4 hari sampai hari Jumat untuk kembali menyibukkan diri: mengerjakan tugas kampus, mengirim buku, dan membaca buku. Tetapi saya akan ingat untuk sesekali keluar, bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang, berbagi hal-hal baik dengan mereka. Hal ini memberikan refleksi bagi saya pribadi: hal-hal tidak terduga akan datang pada kita untuk memberikan pengalaman tersediri yang tidak mungkin akan saya dapatkan jika saya hanya berada di kost. Adalah menyenangkan jika bisa bertemu dengan orang lain dan bertukar semangat juga inspirasi. Adalah menyenangkan untuk pergi keluar.

:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS