Karena sudah terbiasa dengan pemandangan gunung di mana-mana ini, saya jadi ingin ke gunung. Maksudnya, bukan Cuma melihat, tapi berdiri di bawahnya, di atasnya kalau bisa. Saya mengajak teman-teman untuk melancong ke gunung, tapi karena banyaknya kesibukan kuliah yang tidak bisa ditolak, saya tidak pernah ke gunung. Selama 4 tahun terakhir ini. Sampai akhirnya, tanggal 23-24 Agustus kemarin I got my chance! Horeeee!
Gunung Bromo menjadi gunung pertama yang saya kunjungi. Berangkat bersama 4 orang teman saya yang lain dan 2 orang mas-mas pengarah jalan, kami menembus malam menuju gunung yang terkenal ini. Jalan menuju Desa Tosari, desa tempat pos perhentian sebelum naik jip, berkelok-kelok dan sempit. Jalannya bikin pusing. Setelah sampai di Desa Tosari, kami naik jip menuju kaki gunung. Di kaki gunung, jip diparkir di pinggir jalan dan kami berjalan kaki menuju view point. Nah, di view point ini orang banyak mengejar sunrise. Jadi kalau kamu kelamaan di bawah, view point akan ramai dan kamu tidak bisa memotret sunrise-nya. Kami sendiri tidak dapat memotret sunrise karena ketutupan orang-orang, sehingga kami beringsut ke bawah, ke bagian yang ada Gunung Batok-nya. Udara begitu dingin, sampai-sampai bibir kami mati rasa. Pas saya coba buka sarung tangan saya, jari-jari saya ikut mati rasa. Ah, tapi kami semua bersemangat karena Gunung Batok sudah kelihatan (matahari mulai meninggi) sehingga kami menghabiskan waktu mengambil gambar gunung itu.
Kami kemudian turun dan makan sebentar di warung-warung dekat view point. Sehabis makan, kami turun ke jip dan berangkat ke Lautan Pasir. Lautan Pasir sangat panas, sampai-sampai saya harus melepas jaket saya karena keringat. Di Lautan Pasir, ada Kawah Bromo (yang jaraknya lumayan jauh ke atas sehingga dapat menggunakan kuda untuk mempersingkat waktu), juga Pura. 3 orang teman saya tidak ikut ke Kawah Bromo, sehingga tinggal saya dan seorang teman saya, Ninik, yang berjuang sampai ke kawah tanpa naik kuda. Percayalah, naik kuda sepertinya benar-benar tidak menghabiskan waktu karena dengan berjalan kaki (ditambah break di tengah jalan) kami membutuhkan waktu 15-20 menit. Pasir memang membuat kaki berjalan tidak jauh dan berat. Saya berkali-kali berhenti di tengah jalan untuk menghirup udara sejenak, tapi bau belerang di mana-mana. Untuk sampai ke kawah, ada 200 anak tangga yang harus dilewati. Benar-benar perjuangan yang cukup panjang, kawan. Oiya, bagi yang naik kuda, cuma diantarin sampai bawah tangga saja. Sisanya berjalan lagi di 200 anak tangga itu. Pergi-pulang dari kawah memakan waktu 1 jam (pulang pun kami tidak menggunakan kuda), dan akhirnya menuju jip. Kami balik ke Desa Tosari dan makan siang, kemudian balik ke Malang.
Akhirnya, saya ke gunung, saudara-saudari! Dan saya senang sekali! Kalian kalau sempat ke Malang, mampirlah ke Gunung Bromo yaa! ;)
Dingin
Gerbang view point
Kawah
The team~!
PS: Saya sampai pakai 4 lapis pakaian saking dinginnya :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar