Baca Buku

Minggu, 13 Oktober 2013

Saya suka membaca. Kesenangan membaca ini turun langsung dari Papa dan Mama. Papa punya banyak sekali buku bacaan yang sangat bervariasi; biasanya seputar bahasa dan bisnis. Sedangkan Mama begitu menggemari koran; tiada pagi yang terlewatkan tanpa Mama membaca koran. Mama juga suka baca majalah. Tentu saja majalah untuk ibu-ibu. Saya sering nimbrung baca juga, di kolom resep-resep cuma buat cuci mata dengan foto-foto makanan yang menggiurkan. Hihihi.

Yap, balik lagi, saya suka membaca. Sejak pertama kali bisa membaca (seingat saya waktu TK), Mama selalu pulang dari bekerja dengan membawakan saya Majalah Bobo. Sampai SD, tumpukan Majalah Bobo saya menggunung. Biasanya kalo tante atau om saya datang ke rumah, mereka pasti pulang dengan membawa beberapa eksemplar majalah untuk sepupu-sepupu saya yang masih kecil. Sebenarnya sedikit tidak rela, karena saya suka mengoleksi bahan bacaan. Tapi tak apa, demi menularkan semangat membaca saya rela deh hehehe. Kebahagiaan saya untuk terus membaca semakin menjadi-jadi ketika ada Gramedia di Kupang. Toko buku ini kemudian menjadi tempat tongkrongan saya sampai SMA.

Di SMP, saya mandeg membeli bacaan. Kegiatan outdoor menyita begitu banyak perhatian. Bacaan saya paling-paling cuma LKS dan beberapa buku paket untuk di sekolah, juga buku saku Pramuka. Tapi tidak berarti saya tidak membaca. Pastinya selalu ke Gramedia untuk nebeng bolak-balik majalah di sana hehehe. Waktu itu juga minjem buku-buku Harry Potter ke teman SD saya yang tetanggaan, sebelum akhirnya dia pindah pulau.

Masuk SMA, saya begitu banyak 'melahap' majalah kaWanku. Saya menyukai majalah itu mulai dari kertasnya, warna-warninya, beritanya, kontennya, semuanya! Sampai saya sering lupa membeli buku. Tapi tetap suka main ke Gramedia untuk membolak-balik majalah di sana hihihi. Mungkin di usia SMA, banyak anak perempuan menyukai Teenlit. Sayangnya saya tidak begitu memberi perhatian lebih pada novel-novel itu, tapi lebih suka minjem buku-buku berat seperti Eragon atau karangan Jody Picoult ke teman saya, Rara. Meskipun sering juga baca buku-buku berat seperti itu malah tidak selesai.

Saya masih tetap membaca. Sebenarnya pengen beli banyak buku ketika di Kupang, tapi harga buku-buku di Kupang pasti jatuhnya lebih mahal dari buku-buku di Jawa. Biasa, ongkir. Itulah mengapa saya jarang membeli buku di sana, lebih menyenangi membaca majalah yang ramah di kantong. Sampai akhirnya saya kuliah di Malang, dan derajat semangat membaca saya naik sampai termometernya pecah hahaha. Saya menemukan kalo di Malang ada toko buku diskon yang selalu saya datangi untuk nongkrong melihat dan membeli buku baru, Togamas. Dari kost saya ke Togamas hanya sekitar 5 menit jalan kaki. 96% buku di lemari buku saya, saya beli di Togamas. Terus, di Malang juga ada 2 toko Gramedia, tapi saya jarang beli ke sana karena jauh. 3% buku di lemari buku saya adalah hasil beli dari Gramedia. Ada juga toko buku bekas, Wilis, yang menjual buku-buku second. 1% buku di lemari saya dibeli di Wilis.

Tapi di Malang, buku bacaan saya berbeda. Saya bersemangat untuk mengumpulkan buku-buku yang bagus. Mumpung banyak sekali akses toko buku di sini dan yang paling dekatpun memberikan diskon yang semakin ramah di kantong. Saya semakin jarang membaca majalah, mungkin karena berita-beritanya sudah bisa saya akses lewat internet. Buku-buku yang ada di rak buku saya di kost sekarang lumayan bervariasi, baik itu buku-buku non fiksi dan buku-buku fiksi seperti buku puisi/prosa dan novel. Ada juga beberapa Teenlit, iseng beli untuk cari tahu isinya, tapi saya berencana menjualnya hehehe, buat beli buku baru lagi. Ada yang mau beli? :p

Hingga sekarang semangat membaca saya tidak pudar, tetapi semakin menjadi-jadi. Saya juga sudah punya satu buku sendiri lho. Buku laporan PKL hahahahaha. Sebentar lagi buku kedua saya akan keluar, buku Tugas Akhir alias skripsi hihihi. Doakan ya! :D

Saya, Malang, pagi hari, kelas, dan buku puisi Rendra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS