Bumi Perkemahan
sudah ramai sejak dua hari yang lalu. Para penggalang siang ini sudah berkumpul
lagi di lapangan, mendengar instruksi kakak pembina yang cantiknya bukan main. Mereka
akan melakukan Operasi Semut.
“Selama
satu setengah jam ke depan kita akan melakukan Operasi Semut. Semua sudut Bumi
Perkemahan ini harus bersih seperti sedia kala ketika kita pertama kali ke
sini. Setelah itu, kalian boleh membereskan barang-barang kalian dan jika toa
sudah berbunyi, kalian harus sudah berkumpul di sini. Mengerti?”
“Siap,
mengerti, Kak!”
Setelah
instruksi itu, barisan dibubarkan dan semuanya mulai menyusuri setiap sudut
Bumi Perkemahan yang sudah mereka tinggal dua malam itu. Nathan bersama teman-teman
regu puteranya memulai dari tempat tenda mereka berdiri, membersihan
bekas-bekas sampah makanan. Regu putera di tenda sebelah juga melakukan hal
yang sama. Setelah itu, mereka merambah ke lahan kosong yang semalam mereka
pakai sebagai tempat beradu permainan bambu gila.
“Eh,
apa nih?” salah seorang temannya, Mikha, memungut sesuatu dari tanah tidak
jauh dari tempatnya berdiri. Mereka semua langsung mengerubungi si jangkung
itu.
Sebuah anting.
“Oh,
itu punya ketua Pinru Mawar,” ujar temannya, Dicky, yang berbadan bongsor.
“Siapa
nih yang mau mengembalikan? Si Ester kan tadi malam kalah bambu gila dari
aku. Gak enak aku balikin ini ke dia. Sepertinya
dia masih belum terima kekalahannya.”
“Nath, kamu
saja gimana?” Mikha menyodorkan anting itu pada Nathan.
Dia menerimanya.
Setelah
selesai Operasi Semut, Nathan mampir ke tenda Regu Mawar dan mencari pemimpin
regunya. Antingnya dikembalikan pada Ester dan dia berbalik kembali ke tendanya.
“Ini,
ada pesan buatmu,” ujarnya pada Mikha sambil menyodorkan secarik kertas.
Si jangkung
membukanya dan membacanya keras-keras.
“Terima
kasih. Minggu depan, adu bambu gila lagi yuk. Yang menang…” Mikha berhenti sejenak. Teman-temannya penasaran.
“Yang
menang ditraktir bakso di depan sekolah dua mangkok.”
Mikha tersenyum lebar, sedang teman-temannya bertepuk tangan.
“Nama
baik regu kita ada di tanganmu,” kata Dicky sambil menepuk bahu si
jangkung. Yang lainnya memberi semangat.
Nathan ikut menyunggingkan senyuman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar