[cerpen] Bambu Gila

Rabu, 29 Mei 2013

                Bumi Perkemahan sudah ramai sejak dua hari yang lalu. Para penggalang siang ini sudah berkumpul lagi di lapangan, mendengar instruksi kakak pembina yang cantiknya bukan main. Mereka akan melakukan Operasi Semut.

                “Selama satu setengah jam ke depan kita akan melakukan Operasi Semut. Semua sudut Bumi Perkemahan ini harus bersih seperti sedia kala ketika kita pertama kali ke sini. Setelah itu, kalian boleh membereskan barang-barang kalian dan jika toa sudah berbunyi, kalian harus sudah berkumpul di sini. Mengerti?”
                “Siap, mengerti, Kak!”
                Setelah instruksi itu, barisan dibubarkan dan semuanya mulai menyusuri setiap sudut Bumi Perkemahan yang sudah mereka tinggal dua malam itu. Nathan bersama teman-teman regu puteranya memulai dari tempat tenda mereka berdiri, membersihan bekas-bekas sampah makanan. Regu putera di tenda sebelah juga melakukan hal yang sama. Setelah itu, mereka merambah ke lahan kosong yang semalam mereka pakai sebagai tempat beradu permainan bambu gila.
                “Eh, apa nih?” salah seorang temannya, Mikha, memungut sesuatu dari tanah tidak jauh dari tempatnya berdiri. Mereka semua langsung mengerubungi si jangkung itu.
                Sebuah anting.
                “Oh, itu punya ketua Pinru Mawar,” ujar temannya, Dicky, yang berbadan bongsor.
                “Siapa nih yang mau mengembalikan? Si Ester kan tadi malam kalah bambu gila dari aku. Gak enak aku balikin ini  ke dia. Sepertinya dia masih belum terima kekalahannya.”
                “Nath, kamu saja gimana?” Mikha menyodorkan anting itu pada Nathan.
                Dia menerimanya.
                Setelah selesai Operasi Semut, Nathan mampir ke tenda Regu Mawar dan mencari pemimpin regunya. Antingnya dikembalikan pada Ester dan dia berbalik kembali ke tendanya.
                “Ini, ada pesan buatmu,” ujarnya pada Mikha sambil menyodorkan secarik kertas.
                Si jangkung membukanya dan membacanya keras-keras.
                “Terima kasih. Minggu depan, adu bambu gila lagi yuk. Yang menang…” Mikha berhenti sejenak. Teman-temannya penasaran.
                “Yang menang ditraktir bakso di depan sekolah dua mangkok.”
                Mikha tersenyum lebar, sedang teman-temannya bertepuk tangan.
                “Nama baik regu kita ada di tanganmu,” kata Dicky sambil menepuk bahu si jangkung. Yang lainnya memberi semangat.
                Nathan ikut menyunggingkan senyuman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS