Malam itu, Mikha duduk tidak tenang. Di
depannya ada sebuah buku yang terselip pembatas, menandakan halaman yang sedang
dia baca. Di atasnya, sebuah telepon genggam tergeletak. Sesekali dia meneguk
air di gelas di sebelahnya dan mengecek jam weker lebih sering.
Pukul 11.55 malam. Tangannya semakin
dingin, sedang tubuhnya terasa menghangat. Dia meraih telepon genggamnya dan
mencari satu nama di kontak. Lalu meletakkan lagi telepon genggam itu.
Tidak, tidak bisa, pikirnya.
Pukul 11.57 malam. Tinggal tiga
menit lagi dan hari akan berganti. Mikha kembali meraih telepon genggam dan
mencari nama yang sama. Dengan keberanian yang terseret-seret, dia memencet pilihan ‘call’ dan menahan
napas.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
“Nomor yang Anda tuju sedang sibuk,
cobalah beberapa saat lagi.”
“Apes!” dia mengumpat.
Kekesalannya terhadap suara
tante-tante itu membuatnya melakukan panggilan ulang. Dan tersambung!
“Halo?” jawab suara dari seberang. Ester.
Dia gelagapan.
“Ha... Halo! Eh, selamat... Selamat ulang
tahun, ya.”
Klik.
Telepon genggamnya mengakhiri
pembicaraan secara sepihak. Kehabisan pulsa.
“Apeeeeeees!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar