Terjebak dan Sayang pada Puisi-Puisi Jokpin

Jumat, 10 Mei 2019

Kalau saya ditanya siapakah penyair yang saya sukai karyanya, saya akan dengan sangat spontan menyebut Jokpin dan SDD. Yes, saya mungkin salah satu dari sekian banyak pembaca puisi-puisi Paklik Jokpin dan Eyang SDD yang secara sadar jatuh sayang pada karya-karya mereka. Di tulisan ini, saya akan membahas bagaimana saya berkenalan dengan puisi-puisi Jokpin. Topik yang sama untuk SDD akan saya bahas di tulisan yang lain. Ngomong-ngomong, tulisan ini tidak akan berbau begitu sastra, mengingat kapasitas saya yang bukan pengulas sastra maupun pengulas profil yang bagus. :p

Saya berkawan dengan beberapa pegiat sastra NTT yang baik, dan mereka sering sekali menginfokan kegiatan sastra mereka lewat media sosial mereka. Beberapa kali mereka mencatutkan nama Jokpin dalam kegiatan bersastra mereka, mengutip penggalan-penggalan puisi beliau, pun berfoto bersama beliau atau memotret buku puisi beliau. Saya yang pada waktu itu belum terlalu luas wawasan sastranya (sampai sekarang pun masih sempit-sempit aja :p) merasa biasa saja dengan nama Jokpin. Sampai suatu saat, salah seorang kakak pegiat sastra menulis di blognya bagaimana dia secara dramatis mendapatkan buku puisi Jokpin di tumpukan buku-buku di bazar buku sebuah penerbit besar. Dia juga pernah mengunggah buku puisi Jokpin bertandatangan yang dikirim oleh kawan penyair kami yang lain. Saya kira mungkin di momen-momen inilah otak saya merekam kata ‘Jokpin’.

Hari-hari berselang biasa saja, hingga suatu ketika (sekitar 3 tahun sejak momen di paragraf atas) saya jalan-jalan ke toko buku, bermaksud membeli buku rutin bulanan. Pandangan saya tertumbuk pada buku dengan judul ‘Selamat Menunaikan Ibadah Puisi’. Judul yang unik dan menyenangkan dibaca. Pandangan saya turun sedikit, dan membaca nama Jokpin. Oh, ini dia buku puisi Jokpin. Saya ambil satu dan bayar ke kasir. Pulangnya, langsung saya sampul dan saya baca. Kesan pertama? Hangat. Entah kenapa membaca puisi-puisi Jokpin membuat mood saya bagus. Saya merasa bahagia membaca puisi-puisi biblikalnya tentang Tuhan yang ditulis begitu sederhana tetapi dalam. Juga puisi-puisi tentang celana (yang begitu tenar), kopi, mandi, kulkas, dan banyak hal ringan di sekitar kita.

Selesai membaca buku puisi ini, Kak Jef bertanya kepada saya apakah bukunya bagus atau tidak. Bukannya saya menjawabnya dengan bilang tentang kesan pertama saya tadi, tapi saya jawab dia dengan kesan kedua saya: Ngeri! Hahahaha. Iya, ngeri, karena saya tidak pernah membayangkan ada puisi tentang kuburan, sakit, dan hal-hal gelap lain. Ternyata puisi tidak harus tentang yang cantik-cantik dengan kata-kata puitis yang kadang sulit dimengerti. Justru karena Jokpin menulis banyak hal sederhana, dalam, dan dekat dengan keseharian itulah yang membuat saya semakin penasaran dengan puisi-puisi Jokpin di buku-buku yang lain. Maka dari itu, mulailah saya hunting buku-buku puisi lawas beliau yang sudah susah didapat itu. Memang benar kata Jokpin, saya pencinta yang terlambat. Saya baru mencari-cari buku yang ingin saya miliki ketika buku itu sulit ditemukan lagi.

Tapiiiii, apa mungkin takdir sedang berpihak pada saya, dua bulan sejak saya dapat ‘Selamat Menunaikan Ibadah Puisi’, ‘Malam Ini Aku akan Tidur di Matamu’ terbit. Dan satu bulan berikutnya, saya ketemu ‘Baju Bulan’ di online. Saya seberuntung itu. Beberapa tahun setelah itu, hingga hari ini, saya ketemu buku-bukunya secara tidak sengaja dan mujur karena ada yang dicetak ulang. Yang paling menyenangkan adalah tahun ini Jokpin mengeluarkan novel perdananya, ‘Srimenanti’, yang isinya terasa sangat familiar bagi saya.

Ada kesan ketiga yang saya dapat dari membaca puisi-puisi Jokpin: Jokpin selalu menggunakan kata ‘saya’ dalam setiap kata ganti orang pertama tunggal. Sangat jarang sekali saya mendapati kata ‘aku’ dalam puisi-puisinya, kecuali di buku ‘Haduh, Aku Di-follow’ yang memang merupakan kumpulan puitwitnya. Dan sejauh ini, saya pun belum menemukan penyair yang bisa menggunakan kata ‘saya’ dengan luwes dalam puisi-puisinya seperti yang Jokpin lakukan. Atau saya saja yang kurang banyak membaca yaa. Atau memang begitu adanya. Karena ‘saya’ inilah saya pun mulai membiasakan menggunakan ‘saya’ jika berbicara dengan orang lain, dan menggunakan ‘saya’ membuat percakapan jadi formal tapi santai. Setidaknya itu bagi saya.

Puisi-puisi Jokpin seperti ada magisnya untuk saya. Beberapa kali ketika saya sakit dan harus beristirahat, saya sering menyempatkan membaca buku. Kebetulan saya selalu memilih buku puisi dari rak buku saya, karena puisi tidak sepanjang novel. Pilihan saya selalu jatuh ke buku puisi Jokpin atau SDD. Membaca puisi Jokpin selalu menimbulkan kesan hangat perasaan baik untuk saya yang sakit. Sekali lagi, benar kata Jokpin, membaca puisi sering lebih mujarab dari minum obat dan saya berusaha tidak telat minum puisi sebab akibatnya bisa gawat.

Kira-kira seperti itulah kebahagiaan saya berada di dekat puisi-puisi Jokpin. Saya berharap bisa ketemu beliau secara langsung suatu hari nanti, entah kapan, kita lihat saja nanti :D.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS