Bicara cita-cita, dulu cita-cita saya selalu luar biasa. Pertama-tama, saya bercita-cita menjadi detektif. Dulu sering beli majalah Bobo, dan saya selalu bahagia bila ada ulasan tentang detektif yang memecahkan kasus (tentu kasus sederhana level anak SD). Pernah ada kasus pencurian yang disajikan di majalah, dan si detektif bisa mengidentifikasi pencurinya hanya dengan sidik jari. Itu terasa ajaib sekali bagi saya, karena dari hal sederhana sebenarnya bisa tahu siapa di balik pencurian tersebut. Tapi karena tidak banyak artikel tentang detektif, saya pun mengganti cita-cita hahaha. Cita-cita kedua saya adalah menjadi astronot. Itu gara-gara saya suka pelajaran IPA, dan sangat kagum terhadap materi tentang luar angkasa, dan betapa kerennya seorang astronot di mata saya karena bisa menjelajah luar angkasa. Saya juga suka terhadap segala jenis percobaan sains yang ada di buku paket. Sampai-sampai saya belain beli satu buku percobaan terjemahan Jerman yang isinya ada sekitar seratusan percobaan sains di dalamnya (ngemeng-ngemeng, buku itu masih ada lho sampai sekarang). Dulu kosa kata saya belum mengenal kata ‘saintis’, jadi saya tetap menggunakan cita-cita menjadi astronot untuk mencakup cita-cita saya yang menjelajah luar angkasa dan melakukan percobaan-percobaan sains.
Lalu, cita-cita saya berubah menjadi penulis. Penulis apa heyyyy hahaha, itu gara-gara saya membaca Harry Potter dan Lima Sekawan saat usia masih SD, dan begitu terkesima dan terpana terhadap bagaimana Rowling dan Blyton menceritakan kisah di dunia sihir dan kisah petualangan lima bersaudara di pertanian atau peternakan. Setiap menulis biodata (dulu masih jaman nulis biodata di buku teman), saya selalu percaya diri menuliskan cita-cita ingin menjadi penulis. Belum lagi ditambah nilai paling bagus di pelajaran Bahasa Indonesia kelas 6, yaitu mengarang, saya semakin memantapkan diri dengan cita-cita menjadi penulis.
Saya sadar semua cita-cita tinggallah cita-cita. Saya beranjak dewasa, dan realita semakin nyata. Cita-cita pun berubah, sekarang cita-cita saya tidak yang besar-besar. Cukup bisa tidur siang di kala sempat saja sudah gembira. Atau bisa sering pulang ke rumah pun sudah memenuhi kerinduan saya.
Tapi justru ketika sudah di usia seperti ini, saya merasa bisa mencapai ketiga cita-cita purba saya itu. Cita-cita menjadi detektif, tidak harus menjadi detektif beneran. Menikmati kasus-kasus yang dipecahkan Sherlock Holmes lewat BBC atau kasus-kasus di Detektif Conan via komik maupun live action sudah sangat membuat saya bahagia. Cita-cita menjadi astronot atau saintis, tidak harus menjadi astronot atau saintis beneran. Cukup dengan membaca buku bacaan anak-anak tentang luar angkasa atau tentang penemuan-penemuan, saya sudah merasa cerdas sekali hahaha. Dan cita-cita menjadi penulis, saya sering menulis di blog juga :p walau tidak rajin, dan beberapa puisi amatir hahaha. Sekiranya melakukan kegiatan menulis hehee.
Kadang-kadang menyenangkan menjadi orang dewasa, di mana punya uang sendiri untuk beli buku yang menyenangkan (dan mendapat buku dari orang lain tanpa harus membeli wkwkwk). Tapi tetap menyenangkan juga menjadi anak-anak, punya cita-cita tanpa harus merasa terbeban untuk mewujudkannya. :p
Tiga Cita-Cita Purba
Rabu, 27 Februari 2019
Episode dari serial
mengais ingatan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar