Bertahun-tahun ngekos di Malang, saya jadi tahu satu hal: Malang jarang sekali listrik padam. Setahun mungkin tidak sampai 10 kali. Hampir setiap hari sepanjang tahun jarang sekali mati lampu yang sampai berjam-jam. Ini berbeda dengan Kupang, rumah tinggal saya. Di Kupang, sebulan bisa ada tiga sampai lebih pemadaman listrik. Padamnya tidak dalam beberapa menit, malah sampai berjam-jam. Jika listrik padam di malam hari mulai jam 6, kemungkinan menyalanya di jam 10 malam atau besok pagi. Konsumsi lilin juga meningkat. Setiap rumah sudah pasti mempunyai stok lilin, atau lampu minyak, atau lampu teplok, atau lampu emergency yang sudah diisi terlebih dahulu sehingga bisa menyala tanpa listrik.
Setiap listrik padam di rumah, itu adalah momen yang paling saya senangi. Saya suka bermain pegang-pegang api lilin dengan jari kosong dan suka sok-sok jago di depan adik saya dengan memegang air lilin yang panas dengan tangan kosong. Jika tidak melakukan itu, kami di rumah suka membuat bayangan bentuk hewan dengan tangan kami. Tapi pengetahuan dan kemampuan saya soal ini tidak ada kemajuan. Saya hanya bisa membuat bentuk burung dan anjing saja hahahaha. Selain itu, jika masih belum terlalu malam, jam 7 atau jam 8, kami suka duduk-duduk di teras (biasanya saya dan Mama) untuk sekadar bertukar cerita di bawah sinar bulan. Entah kenapa, setiap listrik padam pasti bulan sedang terang-terangnya di langit. Bintang-bintang sudah jelas kelap-kelip berserakan di langit juga. Kadang-kadang saja baru hujan, itu jika pemadaman terjadi di musim hujan.
Tidak sama seperti listrik padam di Malang. Saya pasti lebih memilih untuk langsung masuk kamar kos, karena anak kos yang lain tidak ada yang keluar kamar. Jika memang kebetulan berada di luar (belum pulang ke kos), saya senang melihat kota Malang yang gelap. Hati saya bergerak dan pikiran saya memutar kembali kenangan-kenangan di rumah ketika listrik padam. Tanah rantau saya ini sudah terlalu sering berkelimpahan listrik, sehingga kadang ada orang yang tidak betah jika tidak ada listrik. Sementara itu, saya malah berpikir, sesekali Malang mungkin perlu kena pemadaman listrik juga, sebulan sekalilah. Hahaha. Biar orang-orangpun bisa bercengkerama dengan orang-orang terdekat, atau sekadar biar orang-orang bisa sempat menikmati langit malam tanpa harus pergi ke daerah-daerah yang lebih tinggi untuk mencari bintang. Tidak selamanya gelap itu buruk. Justru ketika gelap dan kita punya cahaya dari sebatang lilin, di situlah bisa lahir keakraban-keakraban yang bisa jadi tidak kita temui ketika listrik menyala dan lampu terang-benderang. Mungkin karena itulah, ketika saya ikut Pramuka waktu masih masa sekolah, saya paling menunggu-nunggu momen Api Unggun. Semua bisa terjadi ketika Api Unggun: upacara, pentas seni, percakapan-percakapan ringan, refleksi, dan kesempatan untuk mengagumi langit.
Gelap. Api. Tidak selamanya buruk. Di dalam merekapun, kita bisa menemukan hal bahagia dan menyenangkan yang lain.
Tulisan ini saya tulis ketika sedang listrik padam di kosan sambil mendengar radio dari ponsel di kamar. Sayang sekali ketika tulisan ini selesai ditulis, listrik juga ikut menyala. Hehee.
Listrik Padam
Minggu, 28 Januari 2018
Episode dari serial
mengais ingatan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar