Masa

Senin, 10 April 2017

Lihatlah bunga di sana bersemi. Mekar, meski tak sempat kau semai.
Dan suatu hari, badai menghampiri. Kau cari kemana dia masih di sana...


Saya bangun di pagi ke sekian, di mana mimpi-mimpi aneh nan membingungkan kerap menghampiri. Pernah saya bermimpi bertemu seorang teman baik, belum pernah bertemu sebelumnya, tapi aneh mengapa wajahnya jelas sekali di mimpi itu, dan dia sedang melucu. Mimpi berikut dia muncul lagi di mimpi, bertemu kedua orang tua saya, membuat sebuah pengakuan yang... saya sendiri agak malu menuliskan di sini. Itu karena dia perempuan, mungkin pernyataan kasihnya dalam mimpi itu bebas saya tafsirkan sebagai kasih teman, kasih saudari kepada saudarinya. Pagi ini saya terbangun dengan mimpi yang tidak bisa saya ingat dengan baik. Sekilas saya melihat Mama dan saya merasa inti mimpi tadi malam adalah hukuman-hukuman ringan tidak masuk akal yang ditimpakan pada saya. Apa ini?

Malam sebelumnya, saya banyak mengobrol bersama pacar saya. Ini penting, karena di waktu itulah saya mulai mengeluarkan isi kepala saya di atas meja makan kami, mengeluhkan hari-hari berat saya, kemungkinan-kemungkinan yang bisa diambil, betapa saya merasa kepala saya macet, berikut racauan-racauan yang membuat dia sebal. Untunglah dia mengerti saya sedang berada pada masa-masa krisis, maka dia memberikan pencerahan-pencerahan versinya sekuat tenaga. Berhasil memang, kami meninggalkan meja makan kami dengan piring-piring kotor, gelas bekas minum, dan isi kepala saya di sana.


Dan hari ini takkan kau menangkan, bila kau tak berani mempertaruhkan...


Masa-masa berat, dianalogikan oleh istri pendeta yang kemarin sore menyampaikan khotbah Minggu daun-daun, sebagai Yerusalem, kota yang akan dimasuki Yesus dalam kisah sengsaranya menuju Golgota. Masa berat saya sekarang, di mana semua arah tidak terbaca jelas, keragu-raguan yang muncul terus-menerus, pikiran buruk yang sering disirami dengan keputusasaan, perasaan ditinggalkan yang mengada-ada, dan kayu berat paling berat yang harus dipikul sedang menunggu. Oke, bagian ini terasa dramatis sekali. Entah saya yang merasa seperti itu atau saya memang sedang mengalami itu. Masa-masa berat, bisakah saya menangkan, jika saya berani mempertaruhkan? Tetapi, mempertaruhkan kepada siapa, mempertaruhkan pada apa?


Walau tak semua tanya datang beserta jawab, dan tak semua harap terpenuhi,
ketika bicara juga sesulit diam, utarakan...




(Banda Neira - Utarakan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS