Minggu lalu, saya melihat seekor burung kecil di lantai dua kost saya. Dia bertengger di kusen jendela, menghadap ke luar, ke pepohonan dan kabel listrik tempat dia (mungkin) biasa berada. Ada kaca pemisah di kusen jendela yang menyebabkan dia tidak bisa terbang ke luar. Saya membuka pintu di bawah jendela dengan maksud supaya burung kecil itu terbang lewat pintu itu. Kasihan dia, temannya berkicau ribut di atas kabel listrik, sementara dia tidak bisa keluar. Saya menyangka jika saya membuka pintu dengan selebar-lebarnya, burung itu akan keluar melewatinya.
Beberapa jam kemudian, saya sengaja lewat pintu itu, memeriksa apakah burung kecil itu sudah terbang meninggalkan kusen jendela atau belum. Ternyata belum. Saya mengambil sapu, lalu berusaha menggerak-gerakkan sapu itu di dekat si burung kecil bertengger (alias sengaja membuatnya 'terusir') supaya dia terbang dari tempatnya. Ternyata tidak berhasil juga. Dia hanya terbang pendek menghindari sapu saya, tapi tidak terbang ke bawah, ke pintu. Selama lima menitan saya berusaha membuat burung itu terbang ke pintu, tapi tidak berhasil. Capek juga memang. Lalu saya membiarkan burung kecil itu tetap di situ, pintu keluar pun masih terbuka lebar.
Ketika hari sudah hampir malam, penjaga kost saya menutup pintu dan jendela. Saya tidak melihat lagi si burung kecil di kusen jendela. Ah, sepertinya dia sudah bergerak dan terbang melewati pintu tadi. Membuat saya berpikir, usaha sapu saya yang tadi mungkin tidak berguna.
Keesokan paginya, saya melewati lagi pintu itu. Dengan terkejut, saya melihat seekor burung kecil yang sudah kaku, tergeletak di lantai dan tidak bergerak. Oh, saya salah kira. Burung yang saya sangka sudah terbang melewati pintu kemarin ternyata mati di atas kusen, dan terjatuh ke lantai. Saya hanya geleng-geleng kepala. Seandainya si burung kecil terbang saja ketika saya mencoba mengusik dia di kusen jendela dan saat pintu sedang terbuka lebar, dia pasti sedang bergabung dengan teman-temannya, entah berkicau di pagi hari atau mencari makanan. Karena dia tidak memutuskan untuk terbang, dia menerima konsekuensi terburuk, yaitu mati, mungkin karena putus asa dan tidak ada makanan.
Burung ini mengingatkan saya, bahwasanya jika tidak ada kemauan dan keinginan dari dalam diri sendiri untuk berusaha, apa yang diinginkan tidak akan tercapai. Bahkan walaupun lingkungan sudah 'mendesak' untuk melakukan, tetapi jika tidak ada gerakan dari diri sendiri, sesuatu yang dicita-citakan tidak akan diperoleh. Seperti si burung kecil yang tidak ada dorongan untuk terbang, minimal mencari jalan keluar menuju udara terbuka di luar, dan meskipun sudah saya usik dia dengan sapu supaya dia terbang, tetapi karena dia sendiri tidak terbang, dia tidak melihat pintu yang sebenarnya sedang terbuka lebar sebagai jalan keluar. Dia buntu di tempat, sampai akhirnya mati.
Cita-cita jika tidak diawali dengan dorongan dari dalam diri sendiri untuk mulai mengerjakannya, tidak akan pernah terwujud. Dia hanya akan tetap menjadi cita-cita, dia hanya akan tetap menjadi mimpi. Angan.
Seekor Burung di Kusen Jendela
Selasa, 14 April 2015
Episode dari serial
monolog
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar