(tulisan ini akan panjang sekali–karena saya pun nulisnya berhari-hari–jadi kalau mulai membosankan, boleh di-skip aja :p. Maklum jarang nekat, jadi sekalinya nekat kudu terdokumentasi dengan lengkap hahaha)
---
Halo. Saya baru saja terbangun dari hibernasi berjam-jam untuk memulihkan lagi tenaga dan semangat setelah perjalanan yang memakan waktu berjam-jam juga. Yep, kemarin pagi pukul 8 saya dengan mulus mendarat di kost dengan wajah berminyak dan punggung yang capek. Darimana? Dari Yogya! Yeyy! :D
Yogya adalah kota idaman yang ingin sekali saya kunjungi. Saya menyukainya sejak saya tahu bahwa kota ini memiliki kebudayaan yang kental sekali (karena kebetulan saya suka segala hal berasa budaya), baik itu budaya Jawa, keraton, maupun sejarah Indonesia. Ketika saya sudah kuliah di Malang, saya juga ingin sekali kuliah di Yogya karena living cost yang murah sekali. Belum lagi Yogya sebagai kota pelajar, banyak penunjang belajar yang mendukung. Sebut saja toko buku murah, suasana kota yang nyaman, banyak spot belajar sekaligus wisata (museum, taman, dll) yang bikin ngiler siapa saja yang menyukai belajar sambil refreshing :).
Di suatu hari yang cerah awal bulan November, teman saya Tom, yang suka naik gunung, mengabari saya lewat Instagram untuk mengecek DM dari Kak Tuteh (senior blogger dari Ende, NTT) dan Kak Dicky (penulis dari Mollo, NTT) di Twitter. Saya buru-buru mengecek DM karena hari sebelumnya saya memang sama sekali tidak online di Twitter. Datanglah kabar bahwa akan ada acara kopi darat blogger se-Indonesia, #BN2013, dan Flobamorata (Komunitas Blogger NTT) juga diundang untuk menghadirinya. Tempatnya di Yogya, tanggal 31 November sampai 1 Desember. Karena saya dan Tom yang dilihat paling bisa menjangkau lokasi (Tom kuliah di Surabaya, sementara saya di Malang), maka kakak-kakak ini menyarankan kami untuk ikut. Saya melihat kalender dan meyakinkan diri sendiri bahwa tidak ada kegiatan apa-apa di tanggal itu, lalu mengiyakan untuk menghadiri pesta blogger itu. Kemudian, saya dan Tom mengisi formulir pendaftaran yang disediakan panitia, berkomunikasi via email dan Twitter, dan mulai mempersiapkan diri.
Perjalanan ke Yogya adalah sebuah perjalanan nekat saya sejauh ini, karena tidak pernah ada di benak saya bahwa saya akan bepergian ke kota idaman saya itu tanpa teman-teman kampus (mengingat kegiatan melancong ke Bali dan Bandung sebelumnya saya selalu bersama rombongan teman-teman kampus), karena pergi ke Yogya dengan naik bus (bus Malang-Surabaya dan Surabaya-Yogya) padahal saya sendiri mabuk darat dengan hanya membawa Antimo 1 setrip, dan banyak kejadian nekat lainnya.
Di hari H keberangkatan, saya sempat ragu; berangkat atau tidak. Berangkat dan akan penuh kebingungan di perjalanan yang bisa saja bikin saya panik (belum lagi saya sendiri belum pernah bertemu Tom), atau tidak berangkat dan akan menyesali kenapa saya takut nyasar padahal saya masih di tempat yang berbahasa Indonesia. Setelah sedikit berdebat dan tawar-menawar dengan diri sendiri, saya putuskan berangkat dengan berbekal SMS panduan naik bus dari teman saya Adi dan pengetahuan tentang bus dan terminal-terminal dari teman saya Linda. Teman saya yang lain, Ika, berbaik hati mau mengantarkan saya ke Arjosari, terminal Malang yang bis-bisnya menuju Surabaya. Kebetulan rumah Ika di daerah Arjosari juga. Saya berangkat tepat pukul 2 siang, setelah sebelumnya dipilihkan bus oleh Ika dan minum 1 butir Antimo. Saya yang masih awam dan amatir naik bus umum antar kota duduk diam-diam sambil memperhatikan tingkah orang-orang di terminal dari dalam bus. Ketika bus akan berangkat, banyak penjual yang masuk ke dalam dan menawarkan banyak jualan. Saya masih kenyang karena sebelumnya sudah makan di kantin kampus, jadi tidak beli jajan apa-apa. Saya juga sempat bawa 2 kue basah dari seminar proposalnya Lidya, jadi lumayan bisa dimakan buat ganjal perut, sesambil mengirimkan SMS ke orangtua saya bahwa saya berangkat ke Yogya untuk ikut kegiatan di sana.
Di tengah perjalanan, yang menghibur dengan nyanyian juga banyak. Naik turun jemput penumpang, pasti ada yang ikutan buat nyanyi. Suara mereka bagus-bagus pula. Setelah mereka nyanyi, sembari menyodorkan topi mereka mengucapkan selamat jalan untuk kami para penumpang dan mohon maaf bila mereka ada salah kata. Ah, lama-lama kalau didengar, entah kenapa saya berasa mendengar penyiar radio sedang live di bus :D.
Dua setengah jam kemudian (agak molor dari perkiraan saya), bus tiba di Purabaya, terminal di Surabaya yang lebih terkenal dengan sebutan Terminal Bungurasih, karena lokasinya ada di daerah Bungurasih, Surabaya. Saya mengontak Tom, dan dia baru datang sekitar sejam kemudian, kira-kira pukul 6 kurang seperempat. Ini kali pertama kami bertemu setelah sebelumnya sering kontak-kontakan di medsos. Ternyata dia teman yang asik. Yang mau berkunjung ke blog Tom, monggo meluncur ke titikoma.
Dengan penuh keberanian (atau kenekatan? Beda tipis emang), kami naik bus ke Yogya dengan tampang backpacker: Tom bergaya kaosan, celana pendek, sandal gunung, tas kamera, dan carrier, sementara saya kaosan dan jaket, celana panjang jins, sneakers, dan tas punggung. Bus yang kami tumpangi agak mahal sedikit, karena sudah termasuk bea makan di tengah jalan. Kami dapat tempat paling belakang. Setengah jam kami bertukar cerita, sampai akhirnya saya tertidur dengan beanie yang menutup sampai mata. Tom malah menghabiskan waktu dengan asik membaca buku di bawah cahaya lampu bus. Sekitar pukul setengah sebelas malam, kami tiba di Rumah Makan Duta untuk makan malam dan lanjut perjalanan lagi. Pukul dua pagi, Terminal Giwangan Yogya menyambut kami. Karena sebelumnya sudah koordinasi dengan kakak-kakak dari Jogja Transport Community, mereka menjemput kami dan mengantar kami ke hostel. Dengan lima belas ribu rupiah, saya ditibakan di EDU Hostel, sedangkan Tom di Hotel Blangkon. Peserta #BN2013 yang menghuni kamar 214, kamar yang sudah ditentukan bagi saya, sudah terlelap semua, maka saya pun mengendap-endap masuk supaya tidak mengganggu mereka, teman-teman baru saya. Selamat dini hari untuk Yogya! :D
Saya terbangun pukul setengah 6 pagi ketika teman-teman sekamar sudah bangun dan antri mandi. Kami kemudian berkenalan. Ada Mbak Sasi, Mbak Norma, Ajeng, Mega, Iyen, dan Ruyati. Setelah kami semua selesai mandi, kami naik ke lantai 5 untuk sarapan. Di sana sudah banyak peserta yang mengambil sarapan mereka. Dan kelihatannya banyak juga yang saling kenal, senior-senior yang sepertinya sudah saling tahu-menahu sejak jaman blog masih di Multiply. Dari tempat kami duduk, Gunung Merapi dengan megahnya terpampang cerah tanpa ada satu awan pun menutupinya. Sayang seribu sayang, saya tidak membawa kamera saat sarapan, sehingga tidak sempat memotretnya *pembaca kecewa* *saya ikut kecewa :(*
Beres sarapan, kami membawa semua bawaan kami ke lobi dan menunggu transport menuju spot pertama, Pagelaran Kraton untuk ikut acara pembukaan. Tapi entah gimana koordinasi panitianya, acara pembukaan dipindah ke spot kedua, Joglo Abang. Kami menunggu agak lama sampai akhirnya berangkat menuju Parkir Ngabean, lalu menumpang bus, dan bergerak ke Joglo Abang di daerah Mlati. Perjalanan memakan waktu setengah jam.
Tiba di Joglo Abang yang sudah penuh dan padat itu (peserta laki-laki termasuk Tom sudah tiba lebih dulu di sana), saya langsung registrasi dan membawa snack saya lalu cari tempat duduk. Saya dapat kursi kosong bersebelahan dengan Mbak Indri dan Mbak Anas yang kemudian mengajak saya jalan-jalan di sekitar Joglo. Kami foto-foto di sawah dekat situ juga, tapi saya lupa minta dikirimi hahaha. Ketika ngobrol, saya jadi tahu kalau Mbak Anas ini temannya Kak Tuteh. Dia langsung twitpic foto saya ke Kak Tuteh dong :D. Asli saya ga merhatiin blas seminar-seminarnya wkwkwk. Ya habis kami duduk di belakang banget (di belakang ratusan orang :p), belum lagi orang-orang di sekitar kami pun asik ngobrol sendiri. Saat ISHOMA, mbak berdua pergi ke masjid untuk salat, sehingga saya pindah duduk dekat Tom. Selesai makan, kami jalan-jalan cari air mineral.
Sekembalinya kami, acara sudah berlanjut dengan pembukaan oleh Wakil Bupati Sleman, diselingi Tari Gambyong oleh HIMA Seta FBS Universitas Negeri Yogyakarta, dan disambung dengan seminar oleh Mas Eko Nugroho (seniman dan pegiat komunitas komik Dagingtumbuh). Selepas seminar, ada pertunjukan Tari Bedana oleh IKPM Tanggamus Yogyakarta, terus seminar oleh Pak Jhony Yuianto dari SIGAB (Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel), dan tarian dari Kalimantan Timur sebagai penutup.
Hari sudah sore, dan ada wacana dari panitia yang membebaskan peserta untuk tetap tinggal di Joglo sambil nonton suguhan budaya Jawa atau ikut tur ke Malioboro. Saya dan Tom ingin keduanya, tapi karena lebih besar keinginan untuk lihat budaya Jawa, akhirnya kami memutuskan tinggal saja.
Suguhan budaya pertama sore itu adalah Gejog Lesung. Tiga orang ibu-ibu menyanyi lagu berbahasa Jawa, sedang enam orang ibu-ibu lainnya membunyikan lesung sebagai iringan musik. Saya tidak menghitung berapa lagu yang dinyanyikan, tetapi terasa sekali bahwa penonton (peserta yang tinggal dan warga sekitar Joglo) ikut menikmatinya. Ketika Gejog Lesung hampir selesai, beberapa orang didaulat oleh ibu-ibu penyanyi untuk naik ke panggung dan menari bersama mereka. Saya salah satunya hahaha, upsss! Maka menarilah saya dengan penuh kekakuan dan jauh dari para penari-penari cakep yang saya tonton di acara-acara sebelumnya wkwk. Gejog Lesung berakhir, dan kami saling salam-menyalami.
Suguhan budaya kedua, Pekbung dan Hadrah. Ternyata para peserta lebih bersemangat di sesi ini, karena mereka rame-rame naik ke panggung untuk menari. Saya, tentu saja, lebih suka menonton hahaha. Kami jeda sejenak karena sudah tiba waktu makan malam.
Suguhan budaya ketiga setelah makan malam adalah Jatilan Gunung Kelir selama 2 jam. Saya agak sembunyi-sembunyi di belakang Tom sih, agak takut sedikit, tapi agak berani-beraniin juga, karena pengen ngambil foto.
Beres nonton Jatilan, kami diarahkan panitia untuk segera ke bus, karena bus harus mengantar kami ke penginapan di Desa Tembi. Sebenarnya saya dan Tom masih nunggu pemutaran film Linimasa 3, tapi semua peserta sudah harus menuju penginapan dengan bus karena hari sudah malam dan perjalanan memakan 1 jam untuk sampai ke Tembi. Tas saya dan Tom yang dititipkan di penitipan tas peserta sebelah Joglo tidak bisa ditemukan; katanya sudah diangkut ke bus pertama, dan ketika kami cek di bus itu tidak ada. Kami naik ke bus kedua dan berkeyakinan kalau tas kami ada di salah satu bus (kebetulan busnya lebih dari 3 wkwkwk). Bus-bus berangkat beriringan, membelah malam, menuju Tembi.
Di Tembi, saya dapat penginapan di Homestay 12. Ketika sudah turun dari bus, kami menemukan tas kami (syukurlah!) dan kami bergerak ke homestay kami masing-masing. Saya tiba di Homestay 12 lima belas menit kemudian, dan di sana juga sudah ada peserta yang mulai istirahat. Saya berbenah diri sedikit dan langsung tidur. Paginya, saya bangun paling belakangan pukul setengah tujuh dengan punggung yang capek. Buru-buru mandi dan kenalan dengan teman di homestay itu, Indah dan Anifa. Kami bertiga kemudian jalan-jalan di sekitar desa, memperhatikan peserta-peserta lain sambil bertukar cerita. Indah kuliah di ITS semester 7 seperti saya dan Anifa di UIN Surabaya semester 5. Setelah muter-muter, kami mampir makan di joglo ketika masih sepi (mumpung peserta lain belum datang untuk makan). Setelah makan, keliling seputaran desa lagi. Kami cukup lama menghabiskan waktu di Leksa Ganesha Batik Gallery.
Saya sebenarnya punya banyak foto lukisan di sana, tapi tanpa mengurangi rasa hormat dan respect for artwork, saya tidak mengunggahnya di sini. Sekadar info, Leksa Ganesha adalah galeri batik yang lukisan-lukisannya dibuat dengan memiliki unsur batik. Kain yang digunakan juga berbeda untuk setiap lukisan. Ada kain yang kasar, ada juga yang halus lembut. Monggo berkunjung ke fanpage FB atau ke web leksaganesha.com untuk melihat koleksi-koleksinya ;)
Di lapangan belakang juga ada pertandingan sepak bola teman-teman tuna netra. Karena saya tidak menonton (kelamaan di galeri batik), ini saya bagikan foto dokumentasi dari Tom yang nonton di sana.
Kami bertiga lalu kembali ke homestay untuk istirahat. Istirahatnya kelamaan hehehe, jadinya pembukaan acara bersama sodara-sodari difabel kami ga ikut. Sekalian lagi di homestay, kami mengepak barang-barang dan keluar ke arah kerumunan orang yang sedang tandatangan di spanduk. Di lapangan juga sedang berlangsung lomba balap kursi roda. Sambil liat lombanya, saya tandatangan di spanduk. Ga sadar kalau tandatangan saya bersebelahan dengan punya Tom yang sudah lebih dulu tandatangan di sana hahaha.
Saya mengontak Tom untuk tanya posisinya lagi di mana. katanya lagi di Pendopo Sentono, ada sarasehan. Kami bertiga pun capcus ke sana. Setelah bertemu Tom, kami berempat beli es degan dulu, terus duduk di samping pendopo untuk mengikuti sarasehan. Kami telat ikut sarasehan yang dibawakan Paguyuban Anggara Kasih. Kami berempat malah diskusi tentang agama, budaya, dan maafkan kami panitia :D. Sambil makan siang, kami berdiskusi seru sekali. Harus terpotong karena Indah dan Anifa balik ke penginapan untuk solat. Saya dan Tom berkeliling desa dan sempat menyapa Mas Jarwadi. Mas Jarwadi dulu pernah mention kami di Twitter saat Kak Tuteh memperkenalkan kami sebagai perwakilan blogger dari NTT untuk mengikuti kopdar.
Acara selepas ISHOMA masih sarasehan juga, dengan pembicara Pakde @senggol dari @JogjaUpdate. Indah dan Anifa belum balik, Tom juga kembali ke penginapan. Saya mengikuti sarasehan bersama Mbak Sasi. Sehabis sarasehan, kopdar #BN2013 ditutup dengan foto bersama.
Setelah foto bersama, Indah dan Anifa baru datang ke pendopo, disusul Tom. Kami berempat sempat dimintai testimoni oleh panitia, dan Tom pura-pura foto-foto biar ga ikut direkam sama panitianya hahaha. Ya sudah, cuma saya, Indah, dan Anifa yang diwawancarai.
Sambil menunggu bus yang akan menjemput kami, saya kenalan dengan beberapa blogger yang sudah saya tahu sebelumnya, seperti Kak Dimas Muharam (tahun lalu pernah saya kontak untuk jadi pembicara di ospek kampus, tapi Kak Dimas berhalangan sehingga tidak bisa hadir), Mbak Indah Juli (yang namanya begitu tersohor; siapa blogger yang tidak kenal beliau? :D), Kak Arlingga (yang dari Malang juga, alumni kampus saya hehee), dan Mas Budi (salah satu panitia).
Bus yang dinanti-nantipun tiba, membawa peserta meninggalkan Desa Tembi. Ada yang menuju stasiun, ada yang menuju terminal. Saya, Tom, dan Indah? Kami mau ke Malioboro! Cihuyyy! Bus mengantar kami dan peserta-peserta lain sampai di titik 0KM Yogya. Suasana siang hampir sore itu benar-benar menyenangkan. Orang-orang tumpah ruah di sana. Memang begitukah setiap hari Minggu, atau pas kami ke sana tepat ramai? Entah, tapi hari itu, Minggu sore, banyak sekali orang-orang di sana. Kami turun di samping Bank BNI. Bangunannya besar dan terkesan jadul, saya suka :). Di depan Monumen Serangan 1 Maret, ada patung manusia akar yang menarik perhatian.
Setelah berunding sebentar, kami bertiga memutuskan untuk masuk ke Museum Benteng Vredeburg, dengan pertimbangan jika jalan-jalan di Malioboro dulu baru ke Benteng, takutnya Benteng sudah tutup. Di dalam Benteng, Indah jadi tour guide kami. Indah sejarahnya pinter sekali :3, saya juga mau pinter sejarah kayak Indah. Setelah puas berkeliling dan belajar di Benteng, kami kedatangan Jho, teman Indah yang sedang kerja di Yogya. Bersama Jho, kami keluar dari Benteng dan jalan-jalan di sepanjang Malioboro. Di tengah jalan, Indah membelikan kami lumpia. Indah is such a lovely tour guide I never ever met before :3
Dari Malioboro, Indah mengusulkan ke Alun-Alun Kidul, alias Alkid. Tempatnya agak jauh dari Malioboro bila jalan kaki, sehingga mending menggunakan andong. Tapi andong mahal. Lima puluh ribu dari Malioboro ke Alkid. Kami pun urung dan mencari becak. Dapat becak harga dua puluh ribu, saya dengan Indah, Tom dan Jho. Tiga tahun tinggal di Jawa, ini momen pertama saya naik becak hahaha :D. Indah dan Pak Becak bercerita ramai dalam bahasa Jawa inggil, sedang saya diam-diam saja menikmati suasana sore hari Minggu.
Sampai di Alkid, ada dua pohon beringin yang tenar; dari Indah kami tahu kalau bisa berjalan melewati kedua pohon beringn ini dengan mata tertutup, maka hati kita bersih. Dia sudah beberapa kali datang ke tempat ini dan mencoba, tapi belum berhasil. Tentu saja saya dan Tom ingin mencoba. Tom duluan. Matanya ditutup dengan slayer milik Indah, badannya kami putar-putar, dan dia mulai berjalan. Gagal. Si Tom Cuma berjalan berputar-putar di tempat hahaha. Percobaan kedua, dia berhasil jalan ke depan, tetapi miring ke kiri, ke arah pohon beringin yang paling besar. Gagal lagi. Saya nyoba dengan prosedur seperti Tom, tapi gagal, jalannya miring ke kanan hahaha. Jho nyoba terakhir, dan sama-sama gagal juga. Yawes kami gagal semua, kalau begitu foto bareng sajalah yang ga gagal :D
Perjalanan dilanjutkan ke Taman Sari yang tidak jauh dari situ. Taman Sari adalah kastil air peninggalan yang sudah tua. Sayangnya ketika kami ke sana, sudah tutup. Maka kamipun hanya duduk-duduk saja di depannya dan menunggu Indah dan Jho salat, karena hari sudah magrib. Waktu Indah dan Jho belum balik dari masjid, ada seorang turis barat yang datang bersama seorang ibu, yang dugaan saya adalah warga sekitar Taman Sari. Ibu itu menerangkan dalam bahasa Inggris yang bagus kepada sang turis barat, dan kami pun nimbrung mendengar. Beberapa saat kemudian, mereka meninggalkan kami lebih dulu. Tak lama dari itu, Indah dan Jho kembali dan mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan. Kami harus ke 0KM karena Indah setelah itu akan ke Stasiun Tugu untuk naik kereta ke Surabaya. Kami mengambil jalan pintas yang agak gelap, lewat masjid bawah tanahnya Taman Sari yang agak remang-remang. Tidak begitu lama, kami keluar di gerbang di jalan besar dan menemukan turis barat dan ibu yang tadi. Mereka masih berbincang sampai kami datang, dan perbincangan itu ditutup dengan inisiatif kami berempat untuk pergi ke 0KM.
Kami pun berkenalan, dan nama turis itu Niel (sependengaran saya), seorang Belanda. Dia di Yogya dalam rngka tur ke Indonesia bersama tim turnya dan sekarang mereka sedang berpencar sendiri-sendiri. Pada pukul 10 malam, mereka akan berkumpul kembali untuk berkemas menuju Gunung Merapi. Info ini kami dengar dari Tom yang mengajaknya ngobrol, berhubung bahasa Inggrisnya Tom yang lebih fasih hahaha. Sampai di 0KM, Indah pamit untuk lanjut ke Stasiun Tugu. Jho mengantarnya, maka kami berempat saling mengucapkan selamat tinggal, sampai bertemu di waktu, dan hati-hati di jalan. Semoga bisa ketemu Indah dan Jho lagi kapan-kapan :3
Tinggallah saya, Tom, dan Niel berdiri di seberang patung manusia akar. Tom menghubungi kakaknya (yang sedang kuliah di Yogya), Yohana alias Yoka, untuk datang bertemu dengannya. Sambil menunggu Yoka datang, kami ngobrol dengan Niel. Saya tanya-tanya dia pertanyaan yang mungkin sudah diajukan oleh Tom sebelumnya hahaha. Tak apalah, Niel juga tidak keberatan menjawab lagi. Sekitar 10 menitan, datanglah Yoka bersama temannya. Niel bilang dia lapar, maka kami berempat memutuskan mencari makanan yang belum pernah dicoba Niel (dia menolak gudeg karena sudah pernah, dan tidak untuk ikan karena dia tidak doyan). Kami berjalan ke Malioboro untuk mendapatkan satu warung lesehan. Niel memesan bebek goreng, Tom tumis kangkung, dan saya ayam goreng. Yoka dan temannya pergi sebentar ke satu toko di seberang warung kami. Sambil makan, kami bertiga ngobrol banyak hal, yang lebih didominasi dengan bertanya pada Niel haha. Dia bilang sedang dapat cuti, sehingga datang ke Yogya untuk liburan. Dia punya peta Yogya berbentuk buku saku berbahasa Belanda yang ditunjukkan pada kami. Pembicaraan kami semakin kemana-mana: cuaca di Belanda, umur Niel, pendapat Niel tentang Indonesia, dan mengapa ke Indonesia. Dia bilang dia suka Indonesia.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, kami sudah selesai makan dan dijemput lagi oleh Yoka dan temannya. Kami berpisah dengan Niel dan melanjutkan perjalanan ke kontrakan Yoka untuk saya menumpang mandi dan Tom beristirahat. Saya harus pulang ke Malang malam itu juga, maka setelah mandi (sambil saya mandi, Tom mengopi foto-foto ke flashdisk saya), Yoka dan temannya mengantar saya menunggu bus di jalan besar. Hari sudah sepi, dan saya dapat bus malam yang lewat di jalan itu. Karena Tom masih tinggal lebih lama di Yogya, saya pulang sendirian. Kembali mengucapkan selamat tinggal dan bus pun melintasi waktu dan malam menuju Terminal Purabaya di Bungurasih.
Saya tiba di Bungurasih pukul 5 pagi, saya berpindah ke bus Malang. Eh ternyata sya bertemu Pak Roni, dosen keuangan di kampus saya, yang akan ke Malang dengan menumpang bus yang sama. Setelah sedikit ditanyai (Lho, Ayu, darimana? Dari Yogya Pak hehe. Sendirian? Iya Pak, sendirian *sambil nyengir* Wah wah bisa bisa *sambil tertawa*), bus pun melaju menuju Terminal Arjosari, Malang, dalam waktu 2 jam. Tiba di Arjosari pukul 7 pagi, saya menumpang angkot AT menuju kost saya yang memakan waktu 1 jam. Tepat pukul 8, saya sampai di kost dengan selamat.
Seperti yang saya bilang di bagian awal, perjalanan ke Yogya ini adalah perjalanan nekat saya. Tetapi di balik kenekatan, ada pesan yang bisa dipetik. Saya bertemu teman baru, saya tahu cara berpindah dari Malang ke Yogya dengan bus, saya tahu ada macam-macam bus dengan tarif yang beda-beda, saya mengerti sedikit tentang Yogya, saya bisa bercakap-cakap dengan turis barat, dan saya tahu betapa bersyukurnya saya bertemu banyak ‘malaikat Tuhan’ yang selalu ada untuk menolong saya ini-itu selama berada di Yogya.
Maka, terima kasih banyak untuk Tuhan Yesus karena telah memberi kesempatan kepada saya pergi ke Yogya; semoga ada kali lain! :D




Tidak ada komentar:
Posting Komentar