Renungan Awal Semester 7; Pesan Khusus dari Ibu Rektor

Jumat, 06 September 2013

*renungan ini selalu dikirimkan oleh Ibu Rektor di kampus saya untuk semua sivitas akademika via email. Saya salin-tempel tanpa suntingan di sini, sebagai pengingat bagi saya pribadi ;)


Renungan awal Semester ganjil 2013-2014
Sivitas akademika Universitas Ma Chung yang saya banggakan,

Semester ganjil 2013-2014 ini menjadi berbeda buat saya secara pribadi.  Saat liburan, sebelum awal semester dimulai, saya sudah memikirkan apa yang akan saya tulis untuk renungan awal semester baru tahun 2013-2014, tetapi kesibukan demi kesibukan menahan langkah saya, hingga pagi hari ini, di koridor gedung Bhakti Persada, saya bertemu dengan mahasiswi cantik yang menanyakan kepada saya, tentang sambutan awal semester yang belum saya “postkan” ke sivitas akademika Universitas Ma Chung.  Sambil berjalan menuju ruang ujian, saya mengucap syukur pada Tuhan juga kepada mahasiswi saya, bahwa bekerja, melakukan segala sesuatu, meskipun itu kecil, haruslah terus menerus dikerjakan dengan konsisten, dengan keyakinan yang teguh, dengan passion…….; bersyukur bahwa “manusia menajamkan manusia lainnya” melalui interaksi, melalui komunikasi, melalui kebersamaan.  Saya telah belajar dari mahasiswi saya.

Saat acara orientasi mahasiswa baru yang kami sebut sebagai Ma Chung Festival, saya mengajak mahasiswa baru dan seluruh sivitas akademika Universitas Ma Chung untuk menghayati tujuan pendidikan.  Memaparkan data dan fakta bahwa di Indonesia sendiri ada 92 PTN, 3.124 PTS, yang kalau ditotal berarti ada 3.216 perguruan tinggi yang dapat dipilih oleh calon mahasiswa baru di Indonesia, dengan angka partisipasi kasar (APK) yang hanya 18.53% (BPS, 2013) mengandung arti bahwa menjadi mahasiswa adalah bagian yang sangat ekslusif, karena dari seluruh siswa SMA dan SMK di seluruh Indonesia, hanya 18.53% yang mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi.  Suatu anugrah yang begitu besar.  Dan dengan pilihan perguruan tinggi yang begitu terbuka luas, yakni sejumlah 3.216 perguruan tinggi!!!  Tentunya variasi perguruan tinggi tersebut ditentukan oleh banyak faktor: faktor kualitas, faktor sumber daya, faktor fasilitas, faktor biaya, faktor lingkungan belajar, faktor nilai-nilai yang dianut dan banyak faktor lainnya yang harus membawa kita semua, sebagai pembelajar dewasa untuk memilih secara kritis dan menghayati pentingnya memaknai tujuan pendidikan dengan sebenar-benarnya.

Dikontraskan dengan fakta banyaknya pengangguran lulusan perguruan tinggi, semakin menyudutkan institusi bergensi yang disebut Universitas untuk menyadari: pendidikan bukanlah segala-galanya.  Namun, segala-galanya dimulai dari pendidikan.  Saya meng “iyakan” pernyataan di atas, sebab kesuksesan memang tidak ditentukan oleh keberhasilan seseorang meraih IPK yang tinggi, atau banyaknya gelar seseorang …… (sekali lagi: pendidikan bukanlah segala-galanya, sama halnya seperti bakat kita, kegeniusan kita)…… bukanlah segala-galanya.  Buktinya banyak orang menjadi sukses dan kaya raya, meski pendidikannya hanya di level sekolah dasar.  Buktinya juga banyak jenius yang gagal.  Namun, satu hal juga harus saya “iyakan” dan bahkan “garisbawahi” adalah “segala-galanya dimulai dari pendidikan”.  Entah itu pendidikan formal, entah itu pendidikan non formal.

Pendidikan membawa manusia yang merupakan masterpiece Tuhan bertumbuh dari satu tahapan ke tahapan yang lain.  Melalui proses……. yang panjang, seumur hidup …..dengan tujuan sederhana yaitu menjadikan kita semua MAHLUK YANG BERTANGGUNGJAWAB.  Paling tidak kita yang berpendidikan perlu bertanggungjawab terhadap diri kita sendiri (terhadap kesehatan kita, masa depan kita, nilai kita, kebermaknaan kita dan semua tentang diri kita sendiri yang ternyata sangat komplek).  Pendidikan bertujuan mengajarkan kita bertanggungjawab juga kepada TUHAN, SESAMA dan LINGKUNGAN HIDUP kita.  Ekspresi bertanggungjawab menjadi luas dan panjang untuk dijabarkan.  Bagi dosen, tentu hal tersebut menyangkut tanggungjawab untuk menjadi dosen yang professional, yang layak diteladani, yang mencintai ilmu atau profesinya, menghargai profesi tersebut dan menghayatinya serta memancarkannya kepada anak didik, sehingga kecintaan dosen terhadap ilmunya, bisa menular dan diresapi oleh anak didik.  Passion, motivasi, value, dan semua yang kita hidupi didalam proses kita mengerjakan tugas tanggungjawab kita, akan merefleksikan tanggungjawab dan kecintaan kita terhadap pekerjaan yang kita kerjakan.  Juga dengan mahasiswa, maknanya bisa diekspresikan dalam banyak hal, antara lain bertanggungjawab terhadap masa muda dan waktu yang begitu bernilai, yang hanya dimiliki oleh 18.53% anak muda Indonesia yang boleh mengenyam dunia pendidikan tinggi, sehingga mahasiswa tidak menyia-nyiakan waktu studinya, mengisinya dengan keterampilan-keterampilan yang sekarang dan kelak dibutuhkan untuk berjalan bersama-sama tanggungjawab yang akan dipikulnya, juga bertanggungjawab atas kepercayaan orangtua/wali dengan dana dan setiap cucuran keringan yang mereka keluarkan buat studi kita……. dan masih banyak lagi. Sudahkah kita sungguh berada dalam proses untuk mencapai tujuan itu?  Untuk menjadi manusia yang bertanggungjawab?

Ketidakberesan yang ada di sekeliling kita, entah dalam wujud kerusakan alam semesta, sampah di mana mana, banjir, tawuran mahasiswa, apapun itu ….. menunjukkan kenyataan bahwa menjadi bertanggungjawab itu ternyata tidaklah mudah!  Negara bingung mengatasi tingginya angka penggangguran, perusahaan lebih bingung lagi, karena sebenarnya mereka membutuhkan banyak pekerja, juga berderet yang melamar, tapi masalahnya selalu berpulang pada kesulitan yang klise, “kesulitan” mendapatkan the right people, with the right skills and the right value.  Ternyata menjadi asset organisasi bukan sekedar hidup dan disebut sebagai manusia.  Tapi haruslah menjadi orang yang tepat, dengan keterampilan yang tepat, dan nilai nilai yang tepat pula.  Untuk sampai dilevel itu, kita perlu menajamkan gergaji kehidupan kita, dengan terus mengingat dan memperdalam makna BERTANGGUNGJAWAB.

Lantas bagaimana kita belajar untuk bertanggungjawab?  Filsuf besar Aristoteles mengatakan: Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan. 

Menjadi BERTANGGUNGJAWAB dan menjadi MASTERPIECE TUHAN ternyata membutuhkan latihan demi latihan yang membentuk sebuah kebiasaan.  Tampaknya kecil dan remeh tapi ternyata membutuhkan disiplin yang luar biasa.  Seperti halnya seorang atlit atau seniman melatih dirinya berjam-jam, bertahun tahun untuk menjadi terampil di bidangnya, kita perlu terus belajar mendisiplinkan diri kita sendiri.  Karena: Kita hari ini adalah apa yang kita perbuat berulang-ulang dimasa lampau. 

Quality is never an accident; it is always the result of high intention, sincere effort, intelligent direction and skillful execution (William A. Foster).  Kualitas kita dan siapa kita di masa depan, bergantung dari kebiasaan kebiasaan yang kita kerjakan sekarang sampai ke masa depan itu…….. Jadi suka atau tidak suka, kita harus menetapkan tujuan, mengerjakan tujuan itu dengan gigih, totalitas, dan dengan cerdas, terus menerus, sehingga perbuatan-perbuatan tersebut membentuk kebiasaan, dan pada akhirnya menjadi kita yang kita inginkan……
Kiranya sambutan awal semester ini bisa menjadi sumber inspirasi kita menapaki semester ganjil 2013-2014 ini dengan lebih bermakna.  Menghitung hari-hari kita sedemikian sehingga kita beroleh hati yang bijaksana.  Indonesia menantikan kontribusi kita!

Malang, 6 September 2013


Leenawaty Limantara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS