Aku mulai mencampurkan adonan itu, menyalakan api dari kompor kecilku, dan melirik sebentar ke sudut jalan sebelah sana. Aku tersenyum.
***
Aku selalu menempati ruang bebas kecil di emper swalayan itu bersama seperangkat alat dan adonan-adonan mentah. Biasanya kegiatan membuat terang bulan akan kulakoni mulai pukul dua siang hingga pukul sepuluh malam.
Kata orang, terang bulan buatanku enak. Aku tidak tahu di mana perbedaannya dengan buatan teman-temanku, sesama penjual terang bulan.
Sebagai penjual terang bulan yang sudah hampir setengah tahun ini, aku punya beberapa langganan. Seorang laki-laki muda bersama perempuan muda yang kukira mereka sudah menikah, karena ada cincin kembar yang mereka pakai di jari manis masing-masing. Kulihat ketika mereka menunjuk ke kertas laminasiku pesanan terang bulan yang mereka inginkan. Mereka selalu memesan 2 terang bulan dengan rasa keju coklat ukuran besar.
Ada juga seorang nenek, yang ketika beliau datang, aku langsung merasa dunia sekitarku berubah menjadi tahun 70an. Bedak yang beliau pakai tidak pernah berganti aromanya dan aku menyukainya. Usianya mungkin sudah tua sekali (aku tidak pernah menanyakannya), terlihat dari raut wajahnya yang termakan waktu. Rambutnya memutih dan dia selalu datang ke tempatku dengan tongkatnya. Dia berjalan membungkuk, tetapi senyumnya tidak pernah hilang dari wajah keriputnya. Sapaannya selalu, "Hai anak muda", dan aku sudah tahu apa yang akan dipesannya: 2 terang bulan kacang single. Untuknya dan untuk cucu semata wayangnya.
Pengamen di depan jalan juga selalu datang kepadaku jika perutnya mulai lapar. Dia selalu menyukai terang bulan coklat. Kadang-kadang ia langsung membayar, kadang-kadang aku harus menunggu sampai malam sampai uangnya cukup untuk menebus terang bulan yang sudah ia habiskan siangnya. Kalau sedang sepi sekali, kugratiskan saja padanya.
Pelangganku yang paling heboh adalah seorang laki-laki yang mungkin umurnya di bawah umurku 3-4 tahun. Dia selalu berpakaian seperti Justin Bieber, hanya saja dia bukan bule. Ketika dia memesan, dia akan mulai bergaya dengan tarian hip-hopnya, menunjuk ke arah tulisan terang bulan original double. Kemudian dia akan nyengir dan mulai ribut menceritakan klub dance yang sedang diikutinya. Dia suka menunjukkanku gerakan baru yang dia pelajari. Dia memang anak yang sangat bersemangat.
Akhir-akhir ini, aku mungkin merasa pelangganku bertambah satu, sejak satu bulan terakhir. Seorang gadis yang selalu mengenakan rok kembang-kembang dan baju kemeja. Rambutnya sepinggang, dan ketika dia berjalan, dia lebih terlihat seperti sedang menari. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi begitulah yang aku lihat. Dia tidak pernah berbicara padaku. Dia hanya akan datang, menunjuk ke kertas laminasiku, ke arah tulisan 'coklat kacang', lalu menelusur ke arah kanan, ke tempat tulisan 'single' berada. Setelah itu, jarinya akan mengacungkan 4 jari dan menatapku dalam-dalam ketika aku mulai menyampurkan adonan.
***
Dugaanku tidak pernah meleset. Dari sudut jalan sebelah sana, tampak gadis rok kembang-kembang itu mulai berjalan seperti menari, mobil jeep pasangan muda mulai memarkir di depan swalayan, aroma bedak jadul mulai tercium, pengamen di depan jalan mulai berjalan lunglai ke arahku, dan si penari hip-hop sedang menyeberangi jalan dengan gaya moonwalk-nya yang terseok-seok.
Sepuluh terang bulan beraneka macam masih panas dan siap dimakan.
Jam lima sore. Aku tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar