Tur Belajar ke Bandung

Sabtu, 22 Juni 2013

Pas dengar kalo bakal ada kegiatan ke Bandung, saya memutuskan untuk ikut. Setelah tahun lalu ke Bali, saya jadi penasaran dengan Bandung. Secara, belum pernah melancong jauh dari rumah hehe.


Keberangkatan dan Hari Pertama

Hari Minggu pagi, tanggal 16, rombongan berkumpul di Balai Pertiwi kampus kami. Ada sekitar 80 orang yang ikut, 2 bis. Ketika waktu menunjukkan hampir pukul sembilan pagi, kami sudah meluncur meninggalkan kampus diiringi dengan dibukanya snack teman-teman yang mulai lapar. Perjalanan memakan waktu 1 hari. Serius, ini perjalanan lintas propinsi. Jadi ceritanya kami dari Jawa Timur, melewati Jawa Tengah, Jogjakarta, dan sampai di Jawa Barat. Pertama touchdown di Kampoeng Nagreg, Nagreg, buat makan pagi, di hari berikutnya, hari Senin tanggal 17. Udara di sana masih dingin, sampai-sampai kalau ngomong bisa keluar uap dari mulut. Selesai makan pagi, bis meluncur ke Coca Cola Amatil Indonesia di Sumedang untuk kunjungan perusahaan pertama. Di sana kami diajak untuk melihat proses pembuatan minuman ringan ini sampai pengemasan. Sayangnya kami tidak boleh memotret kegiatan produksi di sana.

Kak Tessa, perwakilan divisi CSR dari perusahaan ini yang menerima kami

Della - Evi - Keket - Saya - Ika

Seusai menimba ilmu dari Coca Cola, kami tancap ke Kawah Putih di daerah Ciwidey. Yang jalan-jalan ke Bandung wajib ke sini sih. Kawah Putih adalah objek wisata di Bandung. Tempatnya dingin, dan berkabut belerang. Airnya berwarna biru muda. Kalau ke sini wajib bawa masker, tapi kalau kelupaan, sebelum naik ontang-anting (alat transportasi ke kawah) ada mas-mas yang nawarin. Kawah Putih memberikan suatu gambaran tentang alam yang selalu menggetarkan hati saya. Suatu hari nanti saya akan kembali ke tempat ini (mungkin), atau mulai mencari medan alam lain yang mengajarkan saya untuk tetap punya semangat memelihara :)

Penampakan Kawah Putih

Lanjut, kami ke Paris Van Java. Mal terbesar di Bandung yang punya gaya Eropa. Saya benar-benar takjub dengan desain mal ini yang punya banyak sekali toko. Serasa masuk ke toko-toko Eropa hehehe. Kenapa dinamakan Paris Van Java? Karena Bandung itu indah, seindah Paris kalau di Eropa. Bandung adanya di Jawa, makanya namanya jadi Paris Van Java. Kalau adanya di Timor, nanti jadi Paris Van Timor. Hehehe :D

Tulisan 'Paris Van Java' ini justru bukan di bagian luar mal, tapi di bagian dalam

Plafon penuh lampion

Perjalanan hari pertama ditutup dengan beristirahat di Kampung Legok Resort di daerah Lembang.




Hari Kedua

Terbangun di pagi yang dingin yang bisa bikin mulut mengeluarkan uap, dan buru-buru bersiap-siap karena kami akan mengunjungi perusahaan tekstil ekspor sebagai kunjungan perusahaan kedua. PT SIPATEX adalah tujuan pertama kami pagi itu. Di tempat ini, kami dijejali dengan ilmu baru mengenai tekstil, mulai dari benang hingga menjadi kain dan siap dijual dan diekspor ke luar negeri. Jam 10 pagi tiba di sana dan disambut dengan ramah dan bersahabat.

Bapak-bapak yang memberikan sambutan

Kami kemudian dibagi ke dalam 3 kelompok (karena jumlah kami yang banyak). Saya kebetulan dapat kelompok satu, dan kelompok saya mulai dari tahap awal, yaitu tahap weaving. Di tahap weaving, benang-benang mulai dipisahkan dan dibentuk. Selain itu, benang-benang juga diberi pelapis sehingga tidak mudah putus. Di tahap ini juga benang-benang kemudian ditenun menjadi kain. Ruangan weaving sangat besar, dan berisik dengan bunyi mesin penenunnya. Setelah tahap weaving, kami berpindah ke tahap pencelupan. Di tahap ini, kain-kain mulai diberi warna dasar. Ruangannya juga besar dan panas. Mungkin karena banyak mesin yang beroperasi cukup lama dalam proses pencelupan. Selesai dari tahap ini, kami beranjak ke tahap motif di mana kain-kain diberi motif sesuai pesanan. Ketika kami ke sana, kebetulan sedang ada pengerjaan kain bermotif adat Samarinda. Dari tahap ini, kami berpindah ke tahap terakhir, yaitu pengepakan. Di ruangan ini, kain-kain yang sudah selesai diproduksi (tentu saja setelah melewati tahap pemeriksaan, siapa tahu ada kecacatan) dipak supaya rapi. Saya punya beberapa foto di pabrik, tapi tidak bisa saya upload di sini karena yah, menjaga privasi perusahaan hehe. Mungkin foto di bawah ini bisa mewakili.

Kain-kain yang sudah selesai diberi motif dan dibungkus dengan plastik

Siap diekspor! (foto oleh Keket)

Selesai belajar di sana, kami meluncur ke Kartika Sari untuk beli oleh-oleh. Sementara menunggu teman-teman yang belum selesai berbelanja, saya dan teman-teman duduk-duduk di bis sampai ada pengamen yang datang. Dia masih kecil, bergitar, dan bertopi. Kami meminta dia menyanyi beberapa lagu dan petikan gitarnya memang maknyus. Bapak supir bis kami kemudian berinisiatif untuk mengambil topi anak itu lalu diedarkan ke kami, mengumpulkan duit. Teman-teman yang sudah mulai berdatangan juga ikut mengisi topi itu dengan uang mereka. Kalau saya perkirakan, kayaknya hampir mencapai seratusribuan. Ada teman-teman yang juga memberikan makanan kepada anak itu. Dia menyanyi dengan suara yang tegas, tapi matanya tidak bisa bohong; dia terharu. Ternyata benar. Ketika dia sudah turun dari bis dan diantarkan teman saya ke bawah, teman saya bilang kalau dia menangis. Ah, semoga uangnya bisa berguna dan dia bisa terus bersemangat.

Pengamen kecil

Sehabis dari Kartika Sari, kami menghabiskan waktu di Cihampelas. Kalau ke Bandung terus gak sempat ke Cihampelas, wah rugi deh. Ini tempat dengan banyak jualan di sepanjang jalan. Jeans Bandung terkenal dari tempat ini. Nama Cihampelas sendiri karena dulunya ada kolam yang di sekelilingnya tumbuh banyak pohon Hampelas. Bandung itu unik, menurut saya, bukan hanya karena bangunan-bangunannya yang kayak di Eropa, tapi karena banyak nama tempatnya yang berawalan Ci. Khas deh pokoknya. Di Cihampelas, sempat mampir buat lihat CiWalk (Cihampelas Walk), mal yang ada di jalan itu.

Malam ditutup dengan istirahat lagi di Kampung Legok Resort (roommate saya adalah Ika dan Della, sedangkan seatmate saya di bis adalah Cialin).




Hari Ketiga dan Kepulangan

Hari terakhir di Bandung diisi penuh dengan kunjungan ke Trans Studio. Check out dari penginapan dan meluncur ke theme park yang terkenal di Bandung ini. Kami mengikuti seminar singkat dari orang-orang Trans dan menggali pengetahuan cukup banyak dari seminar tersebut. Saya juga sempat bertanya kepada mbak pembicaranya, dan yang bertanya dapat stiker. Lumayan :D

Trans Studio Bandung

Orang-orang Trans yang menerima kami

Dapat stiker karena bertanya

Sebelum main, makan dulu

Guide Map

Di Trans Studio, saya pertama kalinya masuk ke wahana Dunia Lain. Yang kayak rumah hantu gitu. Gila, saya satu kereta sama Janita, Della, dan Cialin, dan saya paling heboh sendiri. Teriak-teriak karena ada suster ngesot, kursi goyang sendiri, terus pocong yang tiba-tiba keluar dari mobil yang lampunya mati-hidup. Yang stay cool dari awal sampai akhir cuma Cialin, sedangkan Janita dan Della jadi takut gara-gara saya teriak ketakutan. Katrok emang :p

Pintu masuk wahana Dunia Lain

Saya juga main Yamaha Roller Coaster. Semacam roller coaster biasa, tapi lintasannya meeeen, saya sampai tidak pernah membayangkan sebelumnya saya akan menaiki wahana itu. Jadi kita hanya butuh waktu satu menit untuk main wahana itu, tapi lintasannya sangat ekstrim (bagi saya), padahal tidak begitu panjang. Setelah maju dan berputar-putar dan memuncak, kami akan bergerak mundur. Sebenarnya saya sudah mau kabur karena pas ngantri saya melihat tayangan di televisi di situ tentang wahana itu. Tapi teman-teman saya mengunci jalur saya supaya saya tidak kabur. Della, Janita, Ika, Cialin, Yosep, Philip. Devina berhasil kabur dan itu curang sekali hahaha. Tapi tak apa, saya jadi punya cerita kalau saya pernah menaiki roller coaster (untuk pertama dan terakhir kali).

Sebagian lintasan roller coaster

Saya juga mencoba main di Lost City. Permainan air dengan perahu karet yang lintasannya juga ekstrim: turunan menukik dan berair. Tidak basah sih, untungnya, tapi jantung saya naik-turun hahaha. Selesai dari wahana ini, kami tidak main lagi. Kami kemudian duduk di tengah arena karena ada pertunjukkan sirkus dari Rusia. Saya tidak sempat mengambil gambarnya karena posisi duduk kami lumayan jauh untuk menangkap gambar.

Sisi kiri belakang penonton sirkus

Setelah itu, kami keluar dari Trans Studio dan melihat-lihat TSM (Trans Studio Mall) yang letaknya bersebelahan dengan Trans Studio. Sorenya jam 6 kembali ke bis untuk siap-siap balik ke Malang. Perjalanan yang macet membuat kami baru touchdown di Malang 28 jam kemudian, yaitu jam 10 malam di keesokkan harinya, hari Kamis. Artinya kami seharian lebih di bis. Perjalanan paling panjang pertama saya yang bikin saya sampai sekarang (bahkan ketika mengetik tulisan ini) masih terasa pusing.

Perjalanan ke Bandung benar-benar perjalanan yang panjang dan jauh. Saya mau istirahat dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS