Renungan Awal Semester 6; Pesan Khusus dari Ibu Rektor

Senin, 18 Februari 2013

*renungan ini selalu dikirimkan oleh Ibu Rektor di kampus saya untuk semua sivitas akademika via email. Saya salin-tempel tanpa suntingan di sini, sebagai pengingat bagi saya pribadi ;)


Dear all,

Selamat memasuki semester baru. Kiranya ada waktu yang kita ciptakan untuk membaca sepenggal kecil refleksi kehidupan di bawah ini:

TRUE STORY

REFLEKSI

Seberapa besar NILAI JATI DIRI kita, kita ungkapkan lewat seluruh keberadaan kita: di rumah, di kampus, di kantor, di jalan, di lingkungan bahkan ketika kita sendirian? Dimana pun kita berada………?

Masyarakat di Negara tertentu mengukur “JATI DIRI” melalui berbagai indikator, misalnya orang Belanda, mengukur kualitas orang melalui dapurnya. Dapur yang bersih, terawat, teratur, hangat, menandakan keluarga dan penghuninya adalah orang-orang yang berkomitmen pada keluarga, komunitas terkecil, dan merupakan pribadi pribadi yang bertanggungjawab dan peduli. Tentu saja ukuran ini belum dibuktikan secara ilmiah, terlahir sebagai kebiasaan yang kemudian menjadi parameter budaya.


Di Singapura ukuran “jati diri” dicerminkan kedalam ketertiban sistim di jalan raya, tidak membuang sampah sembarangan, mentaati hukum, seperti peraturan lalu lintas dll. Hal yang sama dilakukan di Jerman. Bahkan beberapa Negara diakui merupakan bangsa yang memiliki komitmen dan tanggungjawab yang tinggi, terhadap apapun yang dikomitmenkannya.

Sebenarnya, kualitas masyarakat dan Negara adalah cerminan dari akumulasi kualitas individunya. Bagaimana individu tersebut memberikan makna atas dirinya, sebagai “MASTERPIECE”, ciptaan Tuhan yang MULIA, Makluk hidup yang paling sempurna!

Dalam banyak hal, sebagai makluk sosial, kita dapat merasakan benturan benturan yang timbul karena perbedaan nilai: kepribadian yang menonjolkan ego pribadi, berpusat pada “aku”, kurang peduli, apatis atau bahkan memberikan dampak negatif kepada lingkungan melalui tindakan-tindakan provokatif, anarkis, dll. Disisi lain, harmonisasi, kemajuan, keunggulan juga muncul didalam suatu organisasi karena penajaman nilai nilai dari individu yang bersikap proaktif, melayani, mementingkan kepentingan oranglain diatas kepentingan pribadi, berkomunikasi dengan tutur kata yang menyejukkan, motivasi yang membangun dan keteladanan yang dihidupi.

Ditahap mana, dalam perjalanan hidup kita, kita bertumbuh dan menumbuhkan nilai nilai tersebut? Cerita dibawah ini hanyalah satu contoh dari banyak contoh lain yang ada di sekeliling kita. Sepenggal perjalanan hidup seorang Bai Fang Li yang mencoba memaknai hidupnya, secara elegan.

Akankah kita memiliki nilai hidup, yang jelas, yang bermakna, yang membuat kita semakin layak untuk disebut masterpiece Tuhan, mahluk yang mulai, mahluk yang berTuhan ………atau kita lebih memilih pilihan hidup dan nilai diri yang egois, bagi diri sendiri………….

Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.

Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.

Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan yang ia makan lebih banyak didapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian?

Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.

Kejadian yang Mulai Merubah Pandangan Hidupnya

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.

Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ditanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan.

Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.

Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh.

Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.

Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.

Renungan :

Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang sangat tinggi kepada nasib orang lain yang lebih kurang beruntung dari dirinya. (dikutip langsung dari sumbernya di internet).

Semoga kita tidak memulai pemaknaan hidup kita besok atau sekian tahun lagi, atau menundanya nanti saat menjadi tua (jika kita masih mendapat kesempatan tersebut). Cerita Bai Fang Li kiranya menjadi pengingat bagi kita, bahwa kesadaran akan nilai hidup, bisa datang pada usia kapan saja. Dan sebagai masyarakat akademik tingkat tinggi, selayaknya kita belajar dan menjadi peka untuk mulai memaknai hidup, memberi nilai, dan mengukir jati diri sebagai pribadi/individu, anggota Kampus Ma Chung, anggota masyarakat kota Malang, dan bangsa Indonesia, sebagai insan yang bermartabat.

Selamat memasuki semester yang baru. Biarlah setiap hari, kita memaknai hidup kita, menuju nilai-nilai yang kekal, yang universal, yang selaras dengan panggilan hidup yang Tuhan sediakan bagi kita, sebagai mahluk yang mulia.


Malang, 18 Februari 2013



Leenawaty Limantara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS