Tahun Akademik (TA) baru dan semester yang baru sudah dimulai, tepatnya hari ini, Senin, tanggal 27 Agustus 2012. Bagi sebagian orang, tidak ada perbedaan antara tahun akademik baru, semester baru, ataupun hari yang baru. Semuanya dirasakan sebagai rutinitas. Pengulangan hari dan waktu, yang menenggelamkan kita kepada suatu kegiatan rutin yang terus menerus diulang dan cenderung membosankan (walaupun sebuah rutinitas memiliki nilai penting dan makna yang luar biasa, yang tidak bisa kita abaikan, contohnya: rutinitas yang dilakukan sang surya (matahari), bisa kita bayangkan kalau sang matahari pun enggan melakukan rutinitasnya, dan terlambat bangun pagi, apa jadinya penduduk di bumi????). Bagi sebagian lain orang, TA baru, semester baru, hari baru, merupakan suatu permulaan, suatu pembaharuan, motivasi baru, suatu langkah awal, untuk menghayati perjalanan waktu, perjalanan hidup, dan mengisinya secara bermakna. Dikategori mana kita berada, bagaimana pun keberadaan kita, kita diperhadapkan kepada tuntutan yang sama, yaitu BERTANGGUNGJAWAB.
Kesadaran tentang makna TANGGUNGJAWAB menjadi hal penting yang harus kita gumuli, pahami, dan maknai, agar sebagai citra/gambar Tuhan diantara maklum yang ada di jagad raya ini, kita mewujudkan eksistensi kita sebagai “manusia yang seutuhnya”, yang bermartabat, yang memiliki nilai-nilai dan memberikan pengaruh baik kepada orang lain dan lingkungan disekitar kita. Entah dengan keteladanan hidup kita, dengan berbagai sikap dan karya yang kita persembahkan, dengan gagasan-gagasan cemerlang kita, dengan tutur kata kita, semuanya…… mencerminkan pribadi kita sebagai manusia yang mendapatkan anugrah umum Tuhan, menjadi makluk yang bermartabat dan agung.
Tanggungjawab apa sajakah yang perlu kita kembangkan dan latih untuk menjadi manusia yang bermartabat? Pertama-tama tentulah tanggungjawab atas setiap perkataan, sikap, tindakan yang kita buat untuk diri kita sendiri, untuk Tuhan, untuk sesama dan untuk lingkungan kita. Untuk bertanggungjawab dibutuhkan kepekaan diri dan kepekaan sosial yang tinggi. Yang ternyata dipertajam atau diasah melalui perjalanan waktu, melalui interaksi dengan sesame kita (manusia menajamkan manusia lainnya), melalui kesadaran untuk berubah, untuk memperbaiki diri dan melatihnya setiap hari dengan segenap ketekunan dan kedisiplinan. Seperti seorang atlit yang melatih dirinya berjam jam untuk sebuah perlombaan, atau artis yang menfokuskan latihan-latihannya dengan jam latihan yang panjang meski untuk sebuah pertunjukan yang pendek, semuanya membutuhkan latihan. Lantas di institusi yang bernama perguruan tinggi, sivitas akademikanya, baik dosen, staf dan mahasiswa, apa saja yang perlu dilatih dan terus didisplinkan, agar layak disebut sebagai masyarakat akademik tingkat tinggi? Maha guru dan mahasiswa?
KEDISIPLINAN selayaknya dimulai dari diri sendiri, agar setiap tindakan kita, tidak merugikan orang lain, bahkan tidak menimbulkan kesusahan bagi orang lain. Misalnya saja kalau kita menjaga kebersihan dalam menggunakan kamar kecil, ruang kuliah, koridor dll, dengan satu kesadaran, orang lain setelah saya, biar senyaman saya saat menggunakan tempat ini, selayaknya saya menjaganya sebersih mungkin, membuang sampah pada tempatnya, merawatnya dengan kesadaran penuh bahwa itu adalah bagian dari ibadah saya, bagian dari nilai hidup saya, cerminan kualitas nilai saya……. Alangkah indahnya dunia yang dipenuhi oleh orang orang yang sadar diri, yang peka dan yang secara proaktif menjadi pelaku-pelaku komitmen bertanggungjawab tersebut. Untuk melakukannya, dibutuhkan komitmen, satu langkah kecil, dengan kesadaran bahwa “ketika orang orang kecil di tempat tempat terpencil, melakukan hal hal kecil, maka wajah dunia akan berubah”.Perkataan bijak Konfusius ini dapat diuraikan secara bebas dengan pemaknaan: ketika setiap kita, pribadi lepas pribadi, mengerjakan bagian kita masing-masing dengan kesadaran untuk kebaikan semua orang, maka tanpa terasa, akan mengubah suatu lingkungan yang lebih besar. Misalnya kalau seluruh penduduk kota Malang peduli akan kebersihan, membuang sampah pada tempatnya, niscaya mereka melakukannya dengan kesadaran penuh, sendiri sendiri, tanpa menunjuk orang lain sekalipun, kalau semuanya mengerjakannya dengan baik, niscaya kota Malang menjadi kota nan bersih. Semuanya tentang nilai.
Sebagai contoh bangsa Jepang, saat terjadi gempa dan tsunami di Fukushima tahun 2011 yang lalu, dunia justru terkagum kagum dengan bangsa ini, karena kejadian yang sama di berbagai Negara justru menimbulkan aksi anarkis, penjarahan, rebutan makanan dll yang merendahkan nilai dan martabat bangsa tersebut, sementara orang Jepang mampu berbaris, mengantri jatah makanan, saling bahu membahu menolong satu terhadap yang lain. Semuanya berpulang pada nilai jati diri bangsa, nilai tanggungjawab yang ditanamkan sejak dari keluarga, terhadap nilai manusia sebagai mahluk bermartabat dan mulai. Meski kecil, meski negara baru, tetapi Negara ini seperti juga Korea, bisa berkembang pesat mengalahkan negara-negara yang ada ribuan tahun dan tetap dalam kemiskinan seperti India dan Mesir. Dimanakah nilai pembelajarannya? Salah satunya adalah nilai tanggungjawab individu yang secara kolektif menjadi masyarakat dan bangsa.
Di Universitas Ma Chung, nilai kolektif tiap tiap individu Ma Chung, entah itu dosen, staf maupun mahasiswa, akan menjadi nilai sivitas akademika Universitas Ma Chung. Yang perlu warna dan jatidirinya. Yang bisa merefleksikan gambaran/citra mahluk bermartabat, yang membawa perubahan, sebagai agent of change, di kampus, di rumah/keluarga dan disemua tempat dimana kita berada. Untuk itu, marilah kita mulai melangkah dengan nilai indah ini, BERTANGGUNGJAWAB.
Akhirnya, sambutan awal semester ini saya tutup dengan kata bijak sbb: “Ajar aku Tuhan untuk menghitung hari-hariku…. Sehingga aku beroleh hati yang bijaksana”. Sungguh kita tidak pernah tahu berapa umur kita, berapa waktu yang diberikan kepada kita, tetapi kita mempunyai kesempatan menggunakannya dengan bijaksana. Kiranya Tuhan, pengalaman, waktu, dan setiap orang lain yang kita temukan, memberikan kita hikmah baru, menajamkan kita, memotivasi kita, untuk menjadikan hari-hari kita, menjadi bernilai, penuh makna, dan berkontribusi nyata.
Berikut adalah kutipan-kutipan yang ditulis oleh mereka yang menjalani hidupnya sambil terus memaknai hari-hari mereka sehingga memperoleh hati yang bijaksana:
"Having problems does not mean that there is something wrong with you.
It means that you are human, and living in a very real world."
"There is a great difference between worry and concern. A worried person sees a problem, and a concerned person solves a problem."
Harold Stephens
"The way to get things done is not to mind who gets the credit for doing them."
Benjamin Jowett
"What we have done for ourselves alone, dies with us; what we have done for others and the world, remains and immortal."
Albert Pike
"There are two ways to live: you can live as if nothing is a miracle; you can live as if everything is a miracle."
Albert Einstein
"Happiness is not something ready made. It comes from your own actions."
Dalai Lama
Orang-orang mengisi sejarah peradaban sambil menggali nilai-nilai hidupnya, sambil terus bertumbuh, berubah ke arah yang lebih baik, terus menerus, dan tidak pernah berhenti, menyimpan dalam hatinya makna dan nilai kehidupan, seperti yang tertulis dalam puisi berikut:
THE SONG OF T’AI CHI
Ketika dilahirkan, manusia lembut dan lemah
Saat meninggal menjadi kaku dan keras.
Ribuan mahluk, tanaman dan pepohonan,
Adalah lembut dan lentur ketika tumbuh.
Saat mati menjadi getas dan kering.
Sesungguhnya yang kaku dan keras adalah
Sahabat dari kematian;
Yang lembut dan lentur adalah
Sahabat dari kehidupan
(Tao Te Ching)
Selamat memaknai Semester I/2012-2013.
Malang, 27 Agustus 2012
Leenawaty Limantara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar