Renungan Awal Semester 4; Pesan Khusus dari Ibu Rektor

Senin, 13 Februari 2012

*renungan ini selalu dikirimkan oleh Ibu Rektor di kampus saya untuk semua sivitas akademika via email. Saya salin-tempel tanpa suntingan di sini, sebagai pengingat bagi saya pribadi ;)


SAMBUTAN AWAL SEMESTER GENAP 2011-2012

MENJADI TELADAN

Ungkapan “menjadi teladan” merupakan kalimat singkat, mudah diucapkan, mudah diingat, mudah dipahami, tetapi paling sulit untuk dilaksanakan! Ibarat kita saat menunjuk ke orang lain, meminta orang lain untuk mengerjakan hal-hal baik, ini dan itu, ataupun mengoreksi orang lain, ini dan itu, satu jari telunjuk kita mengarah pada orang lain, tetapi sesungguhnya empat jari lainnya, mengarah kepada diri kita sendiri ………..

Menjadi teladan memang bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kesadaran diri untuk keluar dari zona nyaman/comfort zone kita masing-masing, kemudian mengambil komitmen, mendisiplinkan diri, untuk mengerjakan satu dua hal yang layak diteladani, atau bahkan banyak hal. Semuanya bergantung pada SIKAP dan NIAT/KOMITMEN KITA.

Masalahnya, dunia yang maha luas, Negara Indonesia, Kota Malang bahkan Universitas Ma Chung atau lingkungan kecil di keluarga kita membutuhkan perwujudan nyata dari kalimat “menjadi teladan”. Permasalahan seperti global warming yang dihadapi dunia, krisis jati diri bangsa yang dihadapi Negara Indonesia, seperti korupsi, narkoba, perilaku anarkis dll yang menimbulkan kecemasan sosial, sampai masalah di kota Malang sendiri seperti banjir, macet, narkoba, kebersihan kota ataupun masalah di kampus seperti kebersihan kampus, vandalisme, “kehilangan” yang menimbulkan ketidaknyamanan ………… semuanya membutuhkan implementasi dari ungkapan penting “menjadi teladan”. Dan hal tersebut harus dimulai dari diri kita masing-masing, diri yang menulis pesan ini, diri kita masing-masing yang membaca pesan ini.

Buat dosen, apa kira-kira yang bisa dijadikan teladan? Menjadi dosen yang mempersiapkan pengajarannya secara all out, dengan segenap totalitas dan sepenuh hati, mengajar mahasiswa dan mahasiswinya sambil menyadari mandat budaya yang begitu penting yang diletakkan pada pundak seorang dosen, untuk mendidik masterpiece Tuhan? Lantas dengan penuh semangat dan dedikasi, belajar, mengajar, disiplin dalam ketepatan waktu mengajar, terus menerus mengembangkan diri, sibuk dengan upaya-upaya untuk menjadi professional sebagai seorang dosen, siap melayani dan mendidik anak didiknya untuk menjadi insan-insan kamil yang hebat? Atau bentuk ketedanan lainnya, yang masing-masing dari kita, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki, kita persembahkan bagi anak didik kita?

Bagi staf, bentuk perwujudan menjadi teladan bisa diumpamakan seperti cerita berikut:
Joko dan Edi sama-sama diterima di sebuah perusahaan distribusi FMCG sebagai salesman setelah lulus. Mereka berdua bekerja keras. Dua tahun kemudian bos Chandra mengangkat Edi menjadi Sales Supervisor sedangkan Joko tetap saja menjadi salesman. Suatu hari Joko tidak tahan lagi dan mengajukan pengunduran dirinya kepada bos Chandra. Alasan Joko perusahaan ini tidak memperhatikan orang yang bekerja keras, hanya orang yang pandai menjilat bos saja yang bisa naik. Bos Chandra tau bahwa Joko pekerja keras tetapi untuk menyadarkan Joko apa beda dia dengan Edi maka ia memberikan satu tugas kepada Joko. Ia meminta Joko untuk menemukan seorang pedagang semangka di pasar dekat kantor. Saat Joko kembali, bos Chandra bertanya: “Sudah kau temukan Jok?” “Sudah pak” jawab Joko. “Berapa harga semangkanya?” tanya Bos Chandra. Joko pergi ke pasar lagi untuk menanyakan harga semangka lalu kembali menghadap bos Chandra dan berkata: “ Rp 1000 per kg pak.” Bos Chandra berkata kepada Joko bahwa sekarang dia akan memberi perintah yang sama kepada Edi. Edi ke pasar dan setelah kembali menghadap ke bos Chandra. Edi lapor kepada bos Chandra: “Di pasar hanya ada 1 pedagang semangka, harga semangka Rp 1000 per kg, kalau beli 100 kg hanya Rp 800 per kg nya,- ia mempunyai stok 324 biji, yang 32 dipajang di counternya. Semangka didatangkan dari Indramayu 2 hari yang lalu, warnanya hijau segar dan isinya merah jingga, kualitasnya bagus.” Joko sangat terkesan dengan laporan Edi dan memutuskan untuk tidak jadi mengundurkan diri tetapi akan belajar lebih banyak dari Edi. Morale of the story kawan! Bekerja lebih keras saja tidak cukup. Seorang yang lebih sukses meneliti lebih banyak, berpikir lebih banyak dan mengerti lebih mendalam. Untuk alasan yang sama seorang yang lebih sukses melihat beberapa tahun ke depan sedangkan anda hanya melihat esok hari saja. Perbedaan antara 1 hari dan 1 tahun adalah 365 kali lipat.

Lantas, bagaimana kita mencintai pekerjaan kita, punya passion untuk pekerjaan kita, sekecil apapun pekerjaan itu dan mempersembahkannya bagi diri kita dan orang orang yang kita layani. Pastilah sangat Indah bukan?

Bagi mahasiswa, generasi muda yang penuh vitalitas, yang kreatif, yang penuh dengan harapan masa depan, apa kira-kira yang bisa diteladankan? Menjadi mahasiswa yang menyadari masa mudanya dan bertindak bijaksana dengan masa mudanya, yangmenghargai dirinya, sikapnya, perilakunya, dan mengerjakan hal-hal besar yang patut diacungkan jempol? Bentuk tindakan konkrit itu seperti apakah? Seberapa jauh HMP, Lembaga Kemahasiswaan, UKM, dan mahasiswa pribadi lepas pribadi memikirkan bentuk komitmen yang bisa dikerjakan sebagai masterpiece Tuhan? Upaya apa yang bisa diwujudnyatakan di kampus Ma Chung untuk membuat kampus tetap bersih, indah, nyaman, dimana kejujuran, kedisiplinan diri, fasilitas kampus dapat dijaga dan dimanfaatkan dengan bijaksana bagi kita sekarang dan bagi adik adik kelas kita secara turun temurun? Atau bahkan menorehkan prestasi demi prestasi, menjadi insan yang sungguh menjunjung tinggi nilai-nilai luhur sebagai generasi muda yang patut diperhitungkan?

Hukum alam tetap eksis, apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai, tidak bisa kita hindari. Karakter kita, sikap kita, nilai-nilai kita, apa yang kita pikirkan dan katakan, entah sebagai generasi muda, entah sebagai generasi senior, merupakan sebuah proses panjang yang merefleksikan nilai-nilai kita dan apa yang kita anut. Untuk itu kita perlu berlatih, mendisiplinkan diri, mengendalikan diri, dan terus menjadi lentur, fleksibel dan adaptif dalam menghadadapi perubahan, sambil tetap berpegang pada prinsip dan nilai-nilai luhur yang bersifat universal. Pada akhirnya, semua yang kita imani dan kita pegang sebagai nilai-nilai hidup kita, akan menentukan siapa kita dan bagaimana masyarakat menerima kita. Masalahnya tidak berhenti pada apakah kita diterima sekarang atau besok, tapi masalahnya apakah kita berbuat lebih besar lagi, menjadi agen-agen perubahan yang membawa keluarga kita, kampus kita, kota kita, Negara kita dan dunia kita semakin baik?

Ketika orang-orang kecil, di tempat-tempat terpencil, melakukan hal-hal kecil, maka wajah dunia akan berubah. Mungkin kita hanyalah segelintir orang-orang “kecil” di tengah-tengah belantara dunia yang maha luas dan besar, tapi ketika kita punya keyakinan, mengerjakan hal-hal kecil sesuai kapasitas kita, maka wajah dunia pasti berubah. Ibaratnya kalau setiap individu di Ma Chung mau membuang sampah di keranjang sampah, bukan di lantai kelas, atau di lantai kantor, maka pastilah seisi kampus ini tidak ada sampah yang terserak di lobby gedung, di kelas, di kantor atau di halaman kampus ini bukan? Pekerjaannya kecil, tapi membutuhkan sikap, nilai moral, kedisiplinan, komitmen yang besar untuk mengerjakannya. Pastinya membutuhkan orang-orang yang sungguh memiliki kepekaan diri dan kepekaan sosial dan lingkungan yang tinggi. Yang dibentuk melalui perjalanan dan kesadaran hidup yang sangat tinggi.

Akhirnya, marilah kita terus mengingat kata bijak ini: ajar kami menghitung hari-hari kami, sedemikian sehingga kami beroleh hati yang bijaksana. Karena usia kita sungguh tidak bisa kita prediksi, keberadaan kita bisa hilang dalam sekejap, diingat atau tidak diingat oleh keluarga dan lingkungan kita, semuanya tergantung pada bagaimana kita berbuat, menorehkan sejarah kehidupan kita dan memberikan pengaruh bagi lingkungan kita. Semuanya adalah pilihan…… pilihan-pilihan yang diambil setiap orang, menentukan akhir hidupnya……..

Himbauan menjadi teladan yang mengawali semester genap kita ini …… mungkin saja singgah sekejap di pikiran kita, tapi berbahagialah kita, yang masih diberikan hati untuk merenungkannya, mengambil hikmah positif dari dalamnya, yang punya kepedulian dan mengambil sikap untuk menjadi teladan, dalam hal sekecil apapun, disini, disaat ini, dan diwaktu yang sekarang ini.

Selamat memasuki semester genap 2011-2012.



Salam,




Leenawaty Limantara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS